Suatu Sore Bersama Form Us With Love di Solo

fuwl_studio_2012-699x1024

November 2012 lalu saya bertemu dengan Jonas dan Petrus dari Form Us With Love di Solo. Mereka datang ke kota ini untuk mengikuti workshop Future Craft yang diselenggarakan oleh Himpunan Desainer Mebel Indonesia, yang bekerja sama dengan Singapore Furniture Industries Council.

Form Us With Love adalah sebuah firma desain asal Stockholm, Swedia, yang didirikan oleh Jonas Pettersson, John Löfgren dan Petrus Palmér tahun 2005. Desain-desain mereka sangat mewakili karakter desain Skandinavia yang terkesan ringan, dan simple. Karya mereka juga terkesan familiar dan tidak banyak mengandung gimmick, karena dalam merancang mereka selalu terinspirasi oleh kehidupan atau produk sehari-hari.

Selama delapan tahun FUWL, yang tidak pernah memproduksi karyanya sendiri, sudah berkolaborasi dengan banyak brand internasional seperti ateljé Lyktan, Bolon, Cappellini, DePadova, Muuto, Design House Sthlm, dan One Nordic Furniture Company.

bento_fuwlwebb1

botanic4

FUWL memang sudah melampaui permasalahan membuat dan menjual benda baru. Mereka lebih banyak bereksperimen dengan ide-ide baru, merumuskan sebuah system bisnis yang lebih kreatif dan berkelanjutan, atau mengajak masyarakat memikirkan ulang akan produk-produk sehari-hari dan bagaimana produk tersebut membentuk kebiasaan-kebiasaan di dalam sebuah masyarakat. Hal-hal ini membuat tahun lalu mereka dimasukkan ke dalam daftar the world’s 50 most influential designers shaping the future oleh Fast Company. Tahun 2013, Form Us With Love dianugrahi “designer of the year” oleh ELLE Decoration Sweden.

101123_fuwl_02-705x1024

GH: Bagaimana rasanya terpilih menjadi salah satu tokoh yang mempengaruhi desain tahun 2012?

FUWL: Malu. Ya, kami terkejut, tapi tentu saja senang karena hal ini menunjukkan kalau apa yang kami lakukan dinilai baik. Tapi tentu saja kami tidak mengharapkan hal ini. Tujuan kami menjadi desainer bukan untuk mendapatkan penghargaan atau apa.

Kami tidak setuju jika desainer menjadi superstar. Saya sangat menghindari hal tersebut. Memang baik untuk dikenal orang, tapi saya tetap merasa mengejar hal itu tidaklah pantas. Pada awal-awal karir kami, kami juga sangat terkejut dengan respon yang luar biasa dari media-media. Pada saat itu saya merasa kami harus menjaga jarak dan tidak banyak berbicara. Sekarang setelah sekian tahun kami konsisten berprofesi sebagai desainer, saya baru merasa nyaman untuk berbicara lebih banyak.

GH: Jadi tadinya anda menghindari media?

FUWL: Tidak juga, tidak bisa, karena publikasi adalah hal yang terjadi secara alami. Dan kami sadar kami juga membutuhkan hal itu. Hanya saja kami merasa belum melakukan apa-apa yang pantas untuk mendapat sambutan seperti itu. Sekarang setelah kami sudah lebih mapan dengan desain kami, kami lebih santai dalam menghadapi jurnalis.

Kami tidak setuju jika desainer menjadi superstar.

GH: Kalian sudah dinobatkan sebagai desainer yang paling membentuk dunia desain. Dunia desain seperti apa yang ada di dalam visi kalian?

FUWL: Ini pertanyaan sulit. Hmm…(berpikir) Kalau saya mengangankan peran desainer bisa lebih besar lagi. Desainer bisa berperan dalam sistem, dan menjadi pengambil keputusan. Jadi tugas kami bukan sekadar menambah nilai sebuah produk saja. Saya ingin lebih banyak perusahaan-perusaahaan menyadari pentingnya fungsi desainer di dalam kemajuan dan arah perusahaan mereka. Mungkin begitu pula lembaga-lembaga publik.

GH: Di Indonesia, desainer-desainer produk masih menghadapi tantangan yang sangat besar, terutama karena industri kami tidak dipersiapkan untuk menerima desainer, dan desainer juga tidak dipersiapkan untuk terjun ke industri. Bagaimana dengan di Swedia?

FUWL: Saya rasa sama. Kami juga tidak merasa pendidikan kami sudah cukup. Dan saya pikir di mana-mana desainer akan selalu menjadi profesi yang berat. Menurut kami, kami beruntung bisa sampai pada titik ini.

GH: Di Indonesia desainer kebanyakan memroduksi desainnya sendiri. Desainer harus memiliki brand produk. Sementara FUWL malah tidak pernah masuk ke ranah produksi. Bagaimana kalian bisa bertahan hidup dengan cara itu? Apakah sistem seperti itu yang berhasil di Swedia?

FUWL: Tidak juga. Kita tahu banyak desainer Skandinavia yang membuat brand. Bagi kami yang terpenting adalah bekerjasama dengan brand yang tepat, dan kami beruntung selalu menemukan brand-brand hebat yang mau bekerjasama dengan kami.

Tapi selain itu, kami memang tahu tidak akan bisa bertahan hanya dengan menjual produk. Bisa dibilang firma kami bisa berjalan karena kami menjadi konsultan untuk perusahaan-perusahan. Di situ kami menjual jasa dan pengetahuan kami. Dan kami dibayar per jam dengan nominal yang cukup tinggi. Kami tahu, di seluruh dunia fee desain dari sebuah produk terlalu kecil. Ini bukan hanya terjadi di Indonesia.

GH: Pada produk atau proyek apa kalian merasa sangat puas atau berhasil?

FUWL: Masing-masing proyek berbeda-beda, tapi kami sangat senang bisa terlibat dengan Bolon. Kami punya proyek yang cukup dengan brand flooring ini. Dan, kami juga suka hasilnya. Kami juga cukup puas dengan kursi Bento kami yang didesain dengan prinsip DIY.

Namun seperjalanan desain kami, kami mulai menyadari jika keberhasilan kami tidak bisa diukur dari hasil atau produk, tapi dari prosesnya. Apakah kami sudah melewati proses desain yang baik dan menemukan kebaruan-kebaruan? Kalau mengukur keberhasilan dari produk, kami menjadi sangat tergantung pada pasar.

GH: Lalu bagaimana mengukur sebuah proses? Bukankah itu hal yang intangible?

FUWL: Klise, tapi memang hanya kebahagiaan. Saat kami senang mengerjakannya, kami merasa proyek tersebut telah melalui proses yang benar.

Mungkin bisa juga dilihat dari banyaknya anak magang di firma kami. Tiap tahun kami membuka kesempatan mahasiswa atau lulusan baru untuk magang di tempat kami, dan tiap tahun pendaftarnya selalu banyak. Mereka bahkan rela masuk waiting list untuk tahun berikutnya, karena FUWL adlaah studio kecil, jadi kami tidak mampu menampung semuanya. Biasanya desainer-desainer muda ini tahu tentang program magang kami dari mulut ke mulut, dari teman-temannya. Dari sini saya kira bisa disimpulkan kalau mereka bahagia bekerja dengan kami. Bisa karena mereka belajar banyak hal dari proses yang kami kerjakan, atau mereka suka dengan cara kami bertukar pikiran. Yang pasti kami berpikiran positif mereka melamar karena berharap sesuatu yang baik dari kami.

GH: Kota seperti apa yang bisa membuat kalian produktif?

FUWL: Stockholm menyenangkan karena di sana ada teman-teman kami. Tapi rasanya kami lebih memilih kota yang lebih banyak manusianya. Bagi kami traveling juga sangat penting. Biasanya ide-ide datang dengan cepat saat dalam perjalanan. Seperti di sini, mungkin ada sepuluh ide yang kami dapatkan selama hampir seminggu kami di Solo. Jauh lebih banyak daripada setahun di studio.

Apa yang membuat kalian tertarik untuk mengikuti workshop ini?

Harus diakui kami memang tidak datang ke Asia untuk Indonesia saja. Kebetulan kami ingin menghadiri acara di Singapura. Tapi mengetahui ada workshop ini kami langsung setuju untuk ikut karena kami mengetahui Indonesia adalah salah satu negara yang kuat di Asia Tenggara. Kami sudah lama mendengar tentang budayanya. Kami dengar pertumbuhan ekonomi Indonesia juga baik, dan pasar Indonesia sangat besar.

FUWL

Foto: Muhammad Zainuri

GH: Dalam workshop ini kalian memutuskan untuk membuat dingklik. Mengapa?

FUWL: Selama workshop ini kami mendapatkan banyak sekali ide. Setiap kami sampai di suatu pabrik, atau melihat material baru kami berpikir: ok, kita akan mengerjakan hal itu. Namun saat kami melihat hal lain berpikir, hmm… yang ini lebih menarik lagi. Lalu itu terjadi terus-menerus selama tiga hari awal kami di sini, sampai akhirnya kami memutuskan untuk fokus pada dingklik. Produk ini benar-benar luar biasa. Di semua tempat kerja yang kami datangi selalu ada dingklik. Awalnya kami berpikir ingin membuat kursi yang lebih baik, karena kami tidak tega melihat para pekerja duduk serendah itu. Namun pada akhirnya kami mengetahui kalau dingklik justru produk yang khusus dipakai untuk bekerja. Lalu menyimpulkan dingklik inilah produk yang sangat khas dan menggambarkan bagaimana kalian (orang Indonesia) duduk. Karena kami tidak mengenal cara duduk seperti itu.

GH: Kalian memang biasa tertarik pada benda-benda sehari-hari?

FUWL: Ya, menurut kami hal-hal yang dipakai sehari-hari seperti yang dikerjakan oleh perajin-perajin di sini adalah produk yang sesungguhnya. Kami juga sudah lelah dan muak dengan banyaknya desain-desain baru yang selalu bermunculan tiap hari. Makanya kami lebih tertarik pada benda-benda sehari-hari. Jika ada sebuah produk yang dipakai bertahun-tahun, bahkan diproduksi berulang kali dari era ke era, artinya produk tersebut berhasil.

GH: Lalu di mana letak desainnya?

FUWL: Menurut saya dengan memberikan konteks dan pemaknaan baru kepada sebuah produk tradisional atau vernakular artinya kami sudah mendesain. Saya tidak setuju kalau desainer tugasnya hanya membuat produk. Tentu saja Kami juga tidak asal memroduksi ulang, tapi memberikan revisi-revisi sesuai dengan cara pandang kami, karena kami terdidik dengan pengetahuan desain secara teknis.

Jika ada sebuah produk yang dipakai bertahun-tahun, bahkan diproduksi berulang kali dari era ke era, artinya produk tersebut berhasil.

GH: Kita tahu, saat ini terjadi fenomena di mana desainer kembali menilik kriya. Bahkan sekarang nilai sebuah produk kriya dinilai lebih tinggi daripada produk lainnya. Lalu apa peran desainer saat ini?

FUWL: Memang produk-produk yang dibuat perajin di sini seharusnya dihargai lebih tinggi. Tapi saya rasa karena kami belajar masalah teknis, seperti ergonomis, konstruksi, dan sebagainya, desainer bisa membuat sebuah produk kriya menjadi lebih sempurna.

Menurut saya bedanya desainer dengan perajin adalah kita, sebagai desainer, harus selalu mempertanyakan segalanya. Perajin, khususnya perajin tradisinal mungkin akan membuat sesuatu hanya karena mereka suka, atau karena itu yang mereka tahu dari orang tuanya. Maka, jika desainer mau berperan, ia harus menjadi orang yang mempertanyakan kembali produk-produk budaya tersebut.

GH: Setelah kalian melihat banyak proses produksi kriya-kriya Indonesia, apa bedanya dengan kriya Skandinavia? Karena kita tahu jika Skandinavia juga memiliki tradisi kriya yang kuat.

FUWL: Yang pasti kriya Indonesia sangat berbasis SDM. Kami belum pernah melihat begitu banyak manusia di dalam sebuah pabrik. Seperti saat kami ke workshop gerabah, atau anyaman. Semua benar-benar dibuat oleh tangan. Di Skandinavia, memang kami juga memiliki kriya, tapi kriya kami mungkin tidak lagi dikerjakan langsung dengan tangan seperti itu. Khususnya jika sifatnya sudah volume besar, biasanya sudah dikerjakan dengan mesin. Kriya tangan hanya berlaku untuk produksi-produksi terbatas.

Jonas

Foto: Gita Hastarika

Foto: Gita Hastarika

Foto: Gita Hastarika

DSC05558

Foto: Gita Hastarika

DSC05593

Foto: Gita Hastarika

Jonas & Petrus

Foto: Gita Hastarika

GH: Form Us With Love dibentuk tiga orang, Jonas, Petrus dan John. Apa tidak sulit memiliki tiga kepala di dalam sebuah firma atau studio desain?

FUWL: Sulit juga. Kadang kami juga frustasi karena isi kepala kami beda-beda. Tapi kami selalu menganggap bertiga lebih baik daripada satu kepala. Untungnya kami sudah menjadi teman sejak kuliah, jadi sudah sangat mengenal karakter masing-masing. Tapi kadang teman yang baik tidak selalu bisa menjadi rekan kerja yang baik juga. Jadi, ya, memang sulit, tapi menyenangkan.

111078_image_02_0-1200x899

*semua foto oleh Jonas Lindström, kecuali yang disebutkan pada caption.

About gitahastarika

Arsip kerjaan dan bukan kerjaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s