Rumah pada Sebuah Kartu Pos

Menakar imajinasi urban di ujung gunung.

 

Kabut yang turun ke bumi menghadang pandangan hihngga rumah adat Waerebo Tak terlihat. Namun tiba-tiba angin gunung yang dingin sekitar 10° berhembus dan samar-samar tampaklah sosok Rumah Mbaru Niang dengan citra monumentalnya yang menyerupai gunung yang berdampingan.

Mbaru Niang adalah rumah panggung berbentuk kerucut dengan atap alang-alang. Rumah-rumah itu berdampingan mengitari undakan batu berbentuk lingkaran sebagai pusatnya, yang merupakan tempat ritual adat diadakan.

Itulah sosok rumah yang pernah Yori Antar lihat pada sebuah kartu pos. Desa Waerebo yang berlokasi di Manggarai, Flores, memang tidak ditemukan secara kebetulan. Perjalanan Cinta Tanah Air yang diikuti rombongan yang terdiri dari staf-staf PT. Han Awal & Partners architect serta beberapa rekan mereka itu berawal dari kekaguman terhadap sebuah gambar rumah berbentuk bulat pada sebuah kartu pos. arsitek-arsitek ini kemudian mencari desa asing yang sudah banyak dibicarakan antropolog-antropolog Belanda dan luar negeri lainnya.

“Kami menganggap Anda sekalian dari Jakarta sebagai orangtua kami.” Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan seorang tetua adat Waerebo saat menyambut kedatangan para arsitek dan desainer ini. Awalnya, orang-orang kota ini hanya samar-samar memahami makna kalimat tersebut. “Mungkin mereka menganggap kami yang datang dari Jakarta ini adalah orang yang seharusnya melindungi dan memelihara mereka,” ungkap Yori. Berangkat dari pernyataan itulah Yayasan Rumah Asuh didirikan.

Seperti umumnya rumah tradisional Indonesia, Mbaru Niang yang berlantai lima ini adalah rumah komunal. Di dalamnya hidup sekitar delapan keluarga. Setengah dari rumah adat terdiri dari kamar-kamar tidur yang disusun melingkar mengelilingi pusat. Sedangkan setengah yang lain adalah ruang terbuka untuk berkumpul. Di ruang itulah Warga Waerebo biasa menerima tamu-tamunya.

Warga Waerebo memang memiliki filosofi yang sangat unik. Pada awalnya tetua atau raja Waerebo memiliki delapan anak. Ini mengapa ada delapan klan di Desa Waerebo. Yang menarik, rumah Niang tidak dibangun sebanyak delapan untuk ditinggali masing-masing klan. Sebaliknya, tiap satu Rumah Niang, yang memiliki delapan kamar, wajib dihuni oleh masing-masing keturunan dari kedelapan klan tersebut. Mereka benar-benar memakai arsitektur sebagai alat pemersatu.

Secara umum Rumah Niang terbagi menjadi luntur atau lantai dasar yang berfungsi sebagai hunian manusia. Lantai dua adalah lobo, leba, atau kaeng, yang berfungsi untuk menyimpan bahan makanan hasil kebun, misalnya padi, jagung atau umbi-umbian. Lantai ke tiga disebut lentar yang berfungsi sebagai ruang untuk menyimpan benih tanaman. Lantai empat adalah lempa rae yang berfungsi sebagai ruang menyimpan stok makanan untuk menghadapi paceklik. Lalu yang terakhir, lantai ke lima adalah hekang kode, yang berfungsi sebagai ruang sesajen untuk leluhur.

Pusat rumah bukanlah aula, bukan ruang keluarga, bukan pula kamar tidur sang kepala desa, tetapi dapur. Dapur menjadi jantung Rumah Niang karena berkat ruang inilah rumah menjadi hidup. Sebuah rumah di Waerebo akan tetap berdiri selama masih ada orang yang memasak di dalamnya. Begitu rumah ini ditinggal oleh penghuninya, dan tak ada lagi orang yang memasak di dalamnya, rumah itu secara alamiah akan roboh. “Karena asap dan kehangatan yang mengepul dari tungkulah yang melindungi kayu dan atap dari serangga, rayap, dan terpaan iklim,” jelas Yori.

Rumah Waerebo bukan sekadar naungan bagi penghuninya, tapi rumah memiliki jalinan sinergi dengan penghuniniya. Nyawa para penghuni adalah jiwa si rumah. “Rumah di sana seperti makhluk hidup saja, seperti penghuninya,” tambah Yori.

Filosofi arsitektur yang begitu tinggi ini mengundang kelompok arsitek ini untuk melakukan hal yang lebih dari sekadar ekskursi. Untuk itu, Yayasan Rumah Asuh menggandeng Yayasan Tirto Utomo, yang sudah berpengalaman mendirikan pusat pelatihan tenun di Sintang, Kalimantan.

Rencana yang diusulkan adalah membangun kembali rumah-rumah Niang hingga kembali berjumlah delapan. Kemudian Yori juga mengusulkan didirikannya satu rumah untuk penginapan para peneliti yang datang ke desa ini beserta sebuah galeri atau ruang kegiatan komunitas. Namun, secara mengagetkan usul ini langsung ditolak oleh warga. “Mereka bilang mereka tidak butuh semua itu. Kalau pun dipaksakan untuk dibangun, siapa yang akan meninggali rumah-rumah baru itu? Jika tidak ada, tentu tidak akan lama rumah itu akan roboh.”

Akhirnya warga sepakat untuk dibangunkan kembali rumahnya, bukan menambah jumlah rumah, melainkan merenovasi salah satu rumah yang sudah sangat tua dan memprihatinkan kondisinya.

Proses pembangunan rumah diserahkan sepenuhnya kepada para tetua adat, sementara Yayasan Rumah Asuh hanya berperan dalam masalah pendanaan. Dengan supervisi para tetua, Rafel dan Alex, pemuda-pemuda Waerebo bergotong royong membangun rumah mereka. Dengan cara ini, generasi penerus pun mendapatkan transfer pengetahuan yang selama ini hanya tersimpan di dalam otak dan tubuh para tetua.

Selain membangun rumah di desa Waerebo, yayasan ini juga membangun pusat informasi dan perpustakaan di Desa Denge yang terletak di kaki gunung Waerebo. Di gedung inilah foto-foto proses pembangunan rumah disosialisasikan ke khalayak umum. Harapannya, dari sini desa-desa lain juga bisa mempelajari bagaimana cara membangun rumah adat.

Desa Denge sendiri dianggap seperti adik bagi Desa Waerebo yang secara geografis lebih terpencil karena berada di ujung bukit. Desa ini memang usianya lebih muda daripada Desa Waerebo. Banyak warga Desa Waerebo kemudian tinggal di Desa Denge yang lebih dekat dari peradaban, khususnya pemuda-pemudanya. “Agar lebih dekat ke sekolah, biasanya memang warga turun dari Desa Waerebo dan pindah ke desa yang ada di kaki bukit,” ungkap Yori. Inilah yang membuat rumah Niang sedikit demi sedikit kehilangan penghuninya.

Waerebo memang ada contoh satu peradaban yang harus bergelut menghadapi perdaban setelahnya. Mereka sadar modernisasi tidak bisa dilawan atau dihiraukan. Namun sebaliknya, mereka tidak ingin kekuatan budaya mereka pudar dan ditinggalkan.

Tanpa dipromosikan, kekayaan budaya desa ini justru sudah diakui di luar negeri. Rombongan arsitek yang kesulitan mendapatkan informasi tentang desa ini dibuat terkejut dan malu saat melihat ada rombongan dari Taiwan yang sudah seminggu menginap di desa tersebut saat arsitek-arsitek ini sampai. Dua peneliti dari Amerika pun sudah berbulan-bulan tinggal di desa ini hingga sudah dianggap anak oleh warga setempat. “Tadinya kami datang dengan niat ingin memberi. Tapi sesampainya di sana, ternyata justru kami yang menerima lebih banyak,” tandas Yori.

 

*penulis: Gita Hastarika & Michael Brohet. Editor: Anggoro Gunawan

 

*Artikel ini sudah dipublikasikan di majalah dewi edisi Maret 2010

 

*Konservasi rumah tradisional Mbaru Niang di Wae Rebo, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang merupakan inisiatif Yayasan Rumah Asuh ini mendapat penghargaan Award of Excellence Asia-Pacific Heritage Awards for Cultural Heritage Conservation UNESCO 2012.

About gitahastarika

Arsip kerjaan dan bukan kerjaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s