Logika Desain dari Pedalaman

Mungkin orang Indonesia yang mengaku modernlah yang belum cukup rasional untuk menghargai kebudayaan mereka.

2

Butuh kecermatan untuk mendalami logika orang-orang Dayak. Pergelangan kakinya yang ditato, gigi-gigi binatang digantung sebagai liontin di lehernya, di kepalanya ada hiasan bulu-bulu burung dan manik-manik. semuanya mengandung arti tersendiri. Sesungguhnya seperti apa logika masyarakat suku asli Pulau Kalimantan ini?

Jawabannya adalah sangat matematis, teliti, dan rasional. Dari mana dugaan itu berasal? Tentu saja dari produk kerajinan anyamannya.

Citra Suku Dayak bisa saja jauh dari modernitas dan terkesan sangat eksotis. Sampai saat ini mereka masih memegang teguh tradisi mereka dengan kuat. Masih banyak perempuan yang memiliki lubang kuping panjang. Sebagian etnis masih melaksanakan perburuan kepala. Namun jika kita melihat dari hasil-hasil budayanya, khususnya kriya anyamannya, kita akan menyadari jika mereka memiliki logika matematis yang sangat maju.

Dalam sebuah tayangan video, Hangin, pengusaha kerajinan anyaman asal Kalimantan Timur menjelaskan bila tiap pola atau motif anyaman memiliki hitungannya masing-masing. Jika si pengrajin tidak konsentrasi atau salah perhitungan, maka gambarnya akan berubah dan mempengaruhi keseluruhan pola.

Video ini ditayangkan dalam pameran Seni Anyam: Adi Kriya Kalimantan di Bentara Budaya Jakarta April lalu. Pameran ini juga memamerkan macam-macam jenis kerajinan dengan bahan yang berbeda, teknik yang berbeda, dan fungsi yang berbeda-beda. Mulai dari tikar, topi, tas, keranjang, wadah sirih, dan macam-macam wadah lainnya.

Kerajinan anyaman Kalimantan memang agak berbeda dengan kerajinan patungnya yang terkesan sangat tribal. Kriya anyaman Dayak, sebaliknya, terkesan sangat modern. Setiap detail terlihat begitu rapi, halus, dan terpikirkan dengan masak dari segi bentuk dan konstruksi, tidak seperti kerajinan kayunya yang terkesan agak kasar.

Selain tambahan manik-manik atau kepingan uang koin, semua produk anyaman ini tidak ada yang bersifat dekoratif. Setiap detail memiliki fungsi pembentuk dan penguat struktur produk tersebut. Jika dilihat dari logika konstruksinya, produk-produk anyaman Kalimantan bisa dibilang mengandung prinsip desain. Logika seperti ini agak jarang kita temui pada kriya-kriya tradisional yang bentuknya lebih banyak tercipta karena filosofi atau simbol-simbol tradisi.

Anyaman-anyaman Kalimantan bahkan bisa dibilang sesuai dengan prinsip-prinsip desain modern, yaitu “Forms follows function”. Anyaman Kalimantan terasa sangat jujur. Tidak ada yang ditutup-tutupi dari tiap ikatannya, atau tiap pertemuan antar material yang berbeda. Dan memang tak ada yang harus ditutupi dari anyaman-anyaman ini karena tiap detail selalu tereksekusi dengan baik dan rapi, dan yang terpenting, logis.

Anyaman-anyaman yang ada di pameran ini seluruhnya dibuat oleh kelompok-kelompok etnis yang tinggal di Kalimantan Timur. Dayak Aoheng dari Desa Long Bagun dengan topi dari anyaman daun anggrek hutan bermotif besar-besar mirip moif pada tameng. Produk kerajinan Dayak Lundayeh dari Desa Krayan kebanyakan keranjang, tapi ada juga topi dengan teknis anyam yang sangat halus dan memakai rotan. Dayak Kenyah di Kabupaten Malinau  juga memakai rotan dalam anyaman topinya. Bedanya, topi buatan kelompok etnis ini memiliki motif khas yang hanya boleh dipakai oleh keluarga atau keturunan mereka saja. Sementara kriya anyam Dayak Tahol di Kabupaten Malinau yang paling khas adalah topi segi enamnya. Dan yang terakhir adalah Dayak Tenggalan di Kabupaten Nunukan yang andal membuat berbagai macam anyaman tikar.

3

5

Produk Kreatif, Bukan Industri Kreatif

Entah orang-orang Dayak ini sadar atau tidak jika produk kerajinan mereka adalah kriya yang sangat advance, yang pasti raut wajah, Limbang, salah satu penganyam Dayak Kenyah, tidak memperlihatkan ekspresi kebanggaan. Selama tiga hari ia mendemonstrasikan anyaman topi (saraung) dari sukunya. Mungkin karena mereka bukan orang yang senang diekspos. Mungkin juga karena mereka terlalu tekun sehingga tak peduli dengan orang-orang yang terkagum-kagum dengan hasil karya mereka.

Sambil merapatan anyamannya, ia bercerita tentang motif anyamannya tersebut yang bercerita tentang anak petir. Hanya keluarga atau keturunan Dayak Kenyah saja yang boleh memakai atau membuat anyaman motif ini. “Pernah ada orang memakai saraung dengan motif ini tapi kami tidak mengenalinya. Kami bertanya dia keturunan siapa dan kami terlusuri kerabatnya. Ternyata dia bukan keturunan keluarga kami. Akhirnya ia harus menyerahkan saraungnya kepada tetua adat kami. Pada kasus-kasus tertentu kami bahkan mendenda orang yang berani melakukan hal itu,” ungkap Limbang.

Kriya tradisional seperti ini memang dilematis. Di satu sisi kekayaan seperti ini terlalu bagus jika sampai punah dan tidak dihargai oleh masyarakat Indonesia di luar Kalimantan. Akan tetapi di sisi lain kriya-kriya ini tidak sama dengan kriya-kriya di daerah lain yang termasuk industri atau ekonomi kreatif. Hal ini juga yang membuat Limbang gelisah. Aturan adat ini membuatnya tidak akan bisa mengandalkan keterampilannya menganyam sebagai penghasilan utama.

Ada kriya-kriya tertentu yang memang tidak boleh sembarangan dikembangkan desainnya. Biasanya karena produk kriya tersebut dipakai dalam ritual tertentu. Namun ada juga yang sifatnya umum dan fleksibel. Misalnya saja tas yang Hangin rancang. “Ini desain saya. Saya pakaikan retsleting, saya kombinasikan dengan manik-manik dan sebagainya. Tas ini adalah pengembangan dari wadah kecil yang biasa dipakai petani perempuan untuk membawa benih padi atau anjat.”

Proses produksi kriya-kriya anyaman ini juga sangat berbeda dengan barang-barang industri. Pada awalnya setiap produk dibuat untuk dipakai, bukan untuk dijual, karena masing-masing keluarga terbiasa membuat barangnya sendiri, bukan membeli dari pedagang. Limbang misalnya. Ia adalah penganyam di keluarganya. Dialah yang membuat barang-barang anyaman yang dibutuhkan oleh keluarganya, seperti saraung (topi), tikar, wadah-wadah, dan sebagainya.

Meski sebagai barang kerajinan, anyaman Kalimantan memiliki nilai ekonomi, dan menyebarluaskan produknya bisa menjadi salah satu strategi pelestarian, tetapi kegiatan menganyam itu sendiri belum bisa menjadi mata pencaharian tetap dan utama orang-orang Dayak. Umumnya perajin ini adalah petani yang menganyam di sela-sela waktu menunggu panen.

Maka pengusaha kriya seperti Ibu Hangin yang memakai jasa perajin-perajin ini harus memetakan musim tanam para petani di satu desa dan desa lainnya. “Masing-masing desa memiliki waktu tanam yang berbeda-beda. Jadi saya harus tahu kapan harus bekerjasama dengan desa yang satu dan kapan harus bekerjasama dengan desa yang lain.”

Sistem produksi seperti ini sudah pasti memiliki konsekuensi tidak bisa massal, dan juga tidak bisa cepat. Semua upaya-upaya pengembangan indsutri kriya, atau revitalisasi perajin, atau pelestarian harus bisa memahami hal ini.

6

1

8

Melawan Zaman

Jika hal yang kita anggap penting adalah melestarikan komunitas perajin anyaman Dayak,  bukan sekadar meestarikan produknya, tentu saja regenerasi pengetahuan di kalangan orang Dayak sangat dibutuhkan. Limbang justru merasa kesulitan mengajak anaknya untuk mulai belajar menganyam. “Anak zaman sekarang tidak mau belajar menganyam. Tangannya terlalu sibuk dengan handphone.”

Pembangunan di Kalimantan memang tidak sepesat kota-kota besar seperti Jakarta, namun rupanya  perubahan zaman juga berdampak di Kalimantan. Keterisolasian yang selalu kita anggap negative dan ingin segera kita hilangkan mungkin adalah faktor yang mendukung berkembang pesatnya kerajinan-kerajinan anyaman Dayak pedalaman. “Dulu kami tidak banyak kerjaan. Jadi sepulang sekolah, daripada tidak melakukan apa-apa, kami belajar menganyam.”

“Anak zaman sekarang tidak mau belajar menganyam. Tangannya terlalu sibuk dengan handphone.”

Tiba-tiba kita bisa membayangkan apa yang terjadi sekitar 20 tahun lalu, saat Limbang masih remaja. Listrik mungkin sudah ada, tapi belum merata. Jarak satu desa ke desa lainnya juga masih terhalang hutan-hutan. Alat elektronik seperti televisi atau radio juga masih merupakan barang langka, apalagi smart phone. Memang 20 tahun lalu bukan zaman yang terlampau silam jika kita ada di Jakarta, namun mungkin beda ceritanya jika kita berada di Kalimantan, khususnya di daerah-daerah pedalaman.

Di situasi yang sunyi, sepi, tak banyak gangguan itu masyarakat-masyarakat adat membangun peradabannya – meski bukan peradaban yang sering diasosiasikan dengan pembangunan urban. Dengan tekun mereka produktif menghasilkan kriya-kriya tradisional, menciptakan rumus-rumus matematika baru demi menciptakan pola baru yang lebih menarik dan bermakna, membuat inovasi produk-produk baru untuk memudahkan hidupnya, juga mencari bahan-bahan alami baru yang bisa dimanfaatkan menjadi kriya.

Minimnya mobilitas membuat perhatian mereka lebih banyak terfokus ke tangan-tangan mereka. Setiap ada perubahan dalam hidup, ada kebutuhan baru, ada anggota keluarga baru, mereka pun mulai memroduksi produk-produk kriya yang baru untuk menjawab tantangan hidup mereka saat itu. Bagi mereka, sangat tidak mungkin menyelesaikan masalah dengan cara berlari ke pusat perbelanjaan. Semua hal harus dibuat sendiri.

Kini, kebudayaan mencipta itu mulai luntur dengan hadirnya produk-produk modern yang bisa dengan mudah didapat di toko. “Saraung (topi) seperti itu mana ada yang mau membuat lagi? Sekarang orang bisa dengan mudah membeli payung di toko,” ujar Limbang.

Begitulah perubahan zaman. Satu era menggantikan era yang lain. Satu produk menggantikan produk yang lainnya. Saraung digantikan oleh payung. Anjat, semacam tas atau wadah dari anyaman rotan, digantikan oleh tas-tas buatan pabrik. Tikar sebagai alas duduk pun mungkin suatu hari akan tergantikan oleh satu set kursi dan meja, beserta karpet. Mengayam tergantikan oleh menonton televisi dan mengobrol lewat handphone. Dan yang terparah, hutan rotan digantikan oleh pertambangan atau perkebunan kelapa sawit.

“Sekarang bahan-bahan anyaman seperti rotan dan anggrek hutan masih mudah didapat. Tapi besok-besok kami tidak tahu lagi,” keluh Limbang. Isu-isu pembalakan liar, beralihnya hutan menjadi lokasi pertambangan, perebutan lahan antara warga dengan perusahaan kelapa sawit itu bukan mitos. Bagi kita yang hidup di kota mungkin hal tersebut hanyalah berita kerusakan lingkungan. Namun bagi Limbang dan perajin anyaman ini adalah alarm status siaga bagi keberlangsungan hidup mereka.

Wajar sekali jika Limbang gelisah, karena semua bahan untuk anyamannya berasal dari alam. Bahan alami yang biasa ia pakai untuk menganyam adalah rotan dan daun anggrek hutan. Begitu pula dengan pewarnanya, semua alami. Warna merah berasal dari air buah rotan yang dikukus, sedangkan warna hitam didapat dari arang. Hebatnya, meski terbuat dari bahan-bahan organik, warna ini tidak luntur oleh air.

Kita juga sering mendengar pernyataan bahwa Kalimantan adalah surganya rotan. Kalimantan adalah pemasok 80% – bahkan ada yang menyatakan 85% – bahan baku rotan yang dipakai industri di seluruh dunia. Selain Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera juga merupakan sumber bahan mentah rotan. Namun berbeda dengan rotan Sulawesi yang keras dan lebih cocok untuk diolah menjadi mebel, rotan Kalimantan sifatnya lebih elastis, sehingga lebih banyak dipergunakan sebagai bahan anyaman.

Limbang mengatakan, selain ada lahan-lahan yang tiba-tiba di-claim sebagai lahan milik perusahaan tertentu, beberapa warga pemilik perkebunan rotan juga mulai bersedia menjual tanahnya kepada pengusaha. Tentu saja demi sejumlah uang. Pertanyaannya adalah, jika masyarakat pedalaman ini tak boleh tergoda untuk menukar kebun atau hutannya dengan uang, apakah berkebun atau menganyam bisa memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi daripada uang yang ditawarkan perusahaan-perusahaan tersebut? Apakah di negara ini industri atau ekonomi kreatif sudah bisa mengimbangi industri pertambangan?

Bicara hutan, juga hasil kebudayaan seperti kriya tradisional memang sulit diukur dengan uang. Mungkin memang bukan uang alat tukarnya. Kita saja sering kagok dan memakai tolok ukur yang salah saat menilai tingkat peradaban dan nilai budaya etnis-etnis tertentu. Satu hal yang pasti, dari produk anyamannya jelas keterbelakangan Suku Dayak hanyalah mitos orang modern atau mitos urban. Namun, dengan pembangunan Indonesia yang berseberangan dengan budaya tradisi ini, sangat mungkin kekayaan Kalimantan – baik itu produk kriya atau kekayaan hayati hutan tropisnya – hanya tinggal mitos.

7

About gitahastarika

Arsip kerjaan dan bukan kerjaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s