Longing For Pina

Tiga tahun berlalu, dan mereka terus mengenang.

-

 

 

“Mengapa kamu takut pada saya? Apa saya pernah menyakiti kamu?” Demikian pertanyaan Pina kepada Ditta Miranda Jasjfi, penarinya, yang keturunan Indonesia. Di kesempatan lain – dalam film Pina yang disutradarai Wim Wenders – seorang penarinya juga mengungkapkan bahwa Pina pernah mengatakan kalau kerapuhan adalah kekuatan penari tersebut. Hal-hal inilah yang membuat Pina begitu dicintai penari-penarinya. “Human. Dia selalu melihat sisi manusia dari kami,” ungkap Ditta.

Betul, Pina yang dimaksud di sini adalah Philippina Bausch, koreografer asal Jerman, sekaligus direktur Tanztheater Wuppertal yang melegenda itu. Pina memang seorang observer. Ia senang mengamati manusia dan lingkungannya. Sifat inilah yang membuatnya mampu melihat ke jiwa seseorang hingga sisi yang paling dalam, yang terkadang tidak disadari oleh orang tersebut. Entah apa yang dicari Pina dari penari-penarinya, yang pasti tidak selalu hal teknis. “Pina pernah menerima seorang mahasiswa kedokteran. Kebetulan ia baru belajar menari dan ikut audisi. Padahal saat audisi banyak penari-penari yang jelas-jelas lebih jago menari. ”

Pina punya kesan tersendiri terhadap masing-masing penari. “Mungkin saya merasa lebih disayang karena sering diminta membuat tarian. Tapi saat ada adegan teater, mungkin saya orang terakhir yang akan dipilihnya. Lalu jika ada undangan acara penting, ada teman saya yang sering diminta Pina untuk menemaninya.” Ditta pun tak sempat menanyakan kualitas apa yang dimilikinya hingga diterima di Tanztheater Wuppertal.

Seluruh tim kreatif Pina sangat menyayangi Pina. Namun di sisi lain mereka juga sangat menghormati koreografer mereka itu. “Pina seperti punya gelembungnya sendiri. Dia baik sekali pada kami, tapi kami akan selalu segan padanya,” ujar Ditta.

 

Puzzle Tari dan Teater

Metode koreografi Pina memang agak berbeda dari koreografer-koreografer lain. Koregrafinya yang menggabungkan tari dan teater cukup baru pada zamannya. Karya tari seperti ini kemudian dinamakan Tanztheater di Jerman. Kini,  bahkan telah diakui sebagai tradisi tari Jerman.

Secara umum tanzteather bisa diartikan sebagai gabungan tari dan teater. Mungkin ada penjabaran yang lebih dalam tentang apa itu Tanztheater, tapi Pina sang pelopor genre tari ini sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Pina memang bukan seniman yang suka menjelaskan karyanya. Dalam sebuah wawancara, Pina bahkan tampak enggan dan malu-malu menjelaskan apa itu tari (Waz is tanz?”)

Pina banyak terpengaruh mentornya, Kurt Joos, seorang ekspresionis Jerman. Pina pun sering dikategorikan sebagai koreografer neo-ekspresionis oleh para kritikus. Meski tak pernah mengamini para kritikus tersebut, karya-karya Pina memang terbilang sangat ekspresif. Bahkan pada karya-karya awalnya, koreografi Pina terkesan sangat ‘keras’ dan ‘gelap’. Gerakan-gerakan menabrak dinding, kekerasan seksual, tak jarang menjadi tontonan yang ia hadirkan ke atas panggung. Properti yang ia pakai juga tak tanggung-tanggung, mulai dari menutup panggung dengan tanah seperti di “Rite of Spring”, air pada “Vollmond”, menghadirkan binatang hidup, atau memakai pistol sebagai bagian dari pertunjukan.

Tentu saja pertunjukan seperti ini pada awalnya ditentang keras oleh masyarakat seni Jerman, yang pada saat itu masih memuja tari ballet klasik. Reaksi penonton pun begitu negatif, mulai dari memaki, melempar barang-barang ke atas panggung, atau pergi meninggalkan gedung teater sambil membanting pintu. Pina benar-benar mengusik emosi penonton. “Penonton seperti melihat dirinya sendiri di atas panggung. Hal itu mengganggu mereka,” ujar Ditta.

Menurut Ditta, koreografi Pina selalu tentang kehidupan dan manusia, yang umumnya tanpa didasari narasi atau legenda tertentu. “Pina ingin bicara tentang perasaan manusia yang seharusnya mudah dipahami semua orang karena semua orang sama, ingin dicintai, bahagia, tapi juga bisa sedih, kehilangan….” Namun yang terjadi sering kebalikannya. Kita sering mengartikan tari seperti ini sebagai sesuatu yang ‘berat’ dan sulit dimengerti. Mungkin saat menonton pertunjukan kita ingin dihibur, melihat hal-hal indah, dan hanyut ke dalam cerita, bukan mengernyitkan dahi, menarik napas panjang, atau merefleksikan hidup. Karya Pina juga sering berbicara tentang gender bak seorang feminist.

Gelapnya karya Pina dapat dihubungkan dengan kisah hidupnya yang lahir di Solingen pada masa Perang Dunia II, yaitu 27 Juli 1940. Kota Solingen sempat hancur akibat serangan udara. Salah satu karya Pina yang menggambarkan kenangan akan kota kelahirannya ini adalah Café Muller yang sangat menyentuh meski minimalis.

“Café Muller terinspirasi dari masa kecil Pina. Dulu orang tuanya memiliki sebuah kafe, dan orang-orang di dalam panggung itu adalah gambaran yang ditangkap Pina kecil saat ia mengawasi para pengunjung kafe dari bawah meja.” Tak heran di sepanjang pertunjukan kita bisa melihat kesedihan, pasangan yang berkelahi dan bertemu kembali, keputusasaan, orang yang kehilangan arah, dan lain-lain.

Pina pun tidak memperlakukan penari-penarinya sebatas orang yang mengeksekusi idenya atau menghapal koreografinya. “Kami adalah puzzle dan Pina yang merangkai kami,” ujar Ditta. Atau seorang penarinya dalam film Pina mengatakan “Pina adalah seorang pelukis, dengan kami sebagai catnya.”

Proses pembuatan koreografi terjadi melalui eksplorasi-eksplorasi pemahaman, pendalaman, imajinasi dan persepsi sebuah isu yang dilemparkan Pina kepada penari-penarinya. Ia bertanya atau memberikan soal-soal kepada penarinya. Terkadang persoalan itu dilemparkan dalam bentuk kata kunci seperti “cinta”, atau “longing”, atau “kekuatan”, atau “risiko”. Hal inilah yang membuat tiap penari menganggap karya koreografi Pina sebagai ‘bayi’ mereka.

Kemudian dari meja kerjanya di pinggir studio, ia memperhatikan presentasi para penarinya dalam gerak tubuh, tapi juga bisa adegan atau monolog. Ditta sendiri tak pernah tahu apa yang Pina lakukan di mejanya. “Ia selalu sibuk membuat catatan. Entah apa.” Dari situlah kemudian Pina akan memilih puzzle yang mana yang menurutnya bagus dan menyusunnya menjadi sebuah karya utuh.

Agak berbeda dengan koreografer lainnya, musik sering menjadi elemen yang terakhir Pina. Mencari musik yang tepat juga proses yang menantang. “Pina bisa sampai mendengar sampai 40 judul lagu hingga menemukan music yang tepat bagi karyanya.” Dengan Pina, kita harus terbuka dengan berbagai improvisasi. Sampai detik terakhir kami pentas selalu ada kemungkinan untuk berubah. Bahkan pernah ada bagian tarian yang diubah posisinya (bagian awal menjadi akhir dan sebaliknya) saat latihan terakhir di tempat pertunjukan.

Metode membuat koreografi seperti ini sekarang memang bukan milik Pina saja, tapi menjadi proses kreatif koreografer-koreografer kontemporer Jerman pada umumnya. “Karena Pina mengajar di Folkwang, tentu saja ia mempengaruhi murid-muridnya. Sekarang saya lihat banyak yang memakai metode serupa.”

 

Menari di Kota Yang ‘Kering’

Wuppertal adalah kota post-industrial, tidak indah seperti seperti yang digambarkan film Pina. Kota ini ‘kering’ akan kebudayaan. Studio tempat Tanztheater Wuppertal berlatih adalah bekas gedung bioskop. Bisa jadi orang hanya mengenal Wuppertal karena ada Pina di sini. Ditta pun heran mengapa tiap shooting langit tiba-tiba biru, padahal biasanya abu-abu karena polusi. “Mungkin Pina membantu kami.”

Memang agak berbeda dari dugaan kita bahwa kreativitas orang umumnya dipengaruhi kota di mana kita tinggal. Biasanya seniman-seniman tumbuh di kota yang kaya budaya. Tapi Pina sengaja memilih Kota Wuppertal untuk bekerja. Bagi Pina berkesenian adalah bekerja, bukan pengisi waktu luang. Waktu terbesarnya, energinya, memang ia habiskan untuk memproduksi sebuah pertunjukan yang baik. “Wuppertal bukan kota akhir pekan. Buat Pina itu cocok untuk produktivitasnya.”

Pina adalah pekerja keras. Tiap hari dance company ini latihan mulai jam 10 pagi hingga 10 malam. Namun Pina bisa larut dalam pekerjaannya sampai pukul 3 pagi. Jika kita melihat betapa menyentuh dan sempurnanya karya Pina, tentu saja ini tidak terjadi dengan mudah. “Pina juga sering frustasi karena merasa tak bisa membuat sesuatu yang bagus. Ia tak pernah berhenti berpikir. Kami yang melihatnya terkadang kasihan padanya,” kenang Ditta.

Kerja keras ini tidak sia-sia, karena hal inilah yang membangun reputasi Tanztheater Wuppertal. Ini mengapa penari atau tim artistik yang pernah bekerja dengan Pina Bausch akan sulit menemukan dance company lain yang lebih baik, seperti yang dirasakan Ditta dan teman-temannya. “Dulu saya berpikir ini tidak benar karena semua dance company bagus. Mungkin mereka hanya sombong. Tapi setelah bekerja dengan Pina, saya baru merasakan, tidak ada yang lebih baik daripada Pina.” Mungkin ini mengapa kebanyakan penari Pina setia di dance company ini.

 

After Pina

Kepergian Pina begitu mendadak, hanya lima hari setelah ia divonis mengidap kanker, dan sepertinya tidak ada yang pernah membayangkan bagaimana meneruskan kejayaan dan warisan Pina tanpa kehadiran Pina. Sampai sekarang belum ada koreografer yang mengisi posisi Pina. Kepemimpinan Tanztheater Wuppertal sementara dipegang direktur artistik mereka, Dominique Mercy. “Kami telah menghubungi beberapa koreografer, tapi mereka menolak karena belum berani berada di bawah bayang-bayang nama besar Pina.” Pina memang tokoh sentral di Tanztheater Wuppertal. Dialah jiwa dance company ini.

Penari-penari Pina mengetahui kematian Pina hanya beberapa jam sebelum mereka mementaskan karya Pina berjudul “Como El Musguito en La Piedra, Ay Si Si Si…” di Cili. Saat itu, 30 Juni 2009, Pina memang tidak bersama mereka. “Perasaan saya tidak enak saat kami dikumpulkan di salah satu kamar hotel. Ternyata benar… Saat itu perasaan kami begitu kacau, sementara malamnya kami harus menari tarian yang gembira.” Tapi kemudian mereka memutuskan untuk tetap menari karena yakin itu yang diinginkan Pina. Saat itu, penonton belum tahu kalau Pina telah tiada.

 

Saat pertunjukan usai, awalnya para penari tidak ingin naik lagi ke atas panggung karena merasa sangat berduka. Kemudian penari-penari ini naik lagi ke atas panggung, tapi mengosongkan satu ruang di tengah-tengah mereka, ruang di mana Pina biasa berdiri dan memberikan salam bersama. Setelah turun, mereka tidak naik ke atas panggung lagi walaupun penonton terus-terusan bertepuk tangan dan bersorak. “Kami hanya menangis di balik panggung,” kenang Ditta.

 

Satu hal yang menyedihkan, ironis, namun benar, dikatakan suami Pina, Ronald Kay, kepada penari-penarinya. “Kalian lebih beruntung daripada saya, karena Pina lebih sering bersama kalian dibandingkan saya,” tiru Ditta.

Tentu saja Tanztheater Wuppertal bukan dance company pertama yang kehilangan koreografer atau dierktur mereka. Pada tahun 1991, Martha Graham Dance Company kehilangan sosok besar Martha yang diangap sebagai penari yang melahirkan tari modern. The Martha Graham Dance Company adalah dance company tertua di Amerika Serikat, yaitu berdiri pada 1926. Penari-penari terkenal banyak lahir dari dance company besutan Martha Graham tersebut.

Pengetahuan, karya, dan teknik Martha telah dipreservasi dengan baik oleh dua asistennya, Ron Protas dan Linda Hodes. Kini penari-penari di seluruh dunia bisa mempelajari vokabulari Martha dan seni pertunjukan pada umumnya di Martha Graham Centre of Contemporary Dance di New York.

Saat ini Tanztheater Wuppertal juga sedang mengumpulkan dokumentasi dan menyebarkan cerita tentang Pina Bausch, dan bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangan seni tari modern dan kontemporer di dunia khususnya, dan seni pertunjukan.

Inilah mengapa film Pina (2011) dibuat. Wim Wenders sebenarnya sudah lama ingin membuat film tentang Pina tapi ide tersebut terhenti saat Pina meninggal. Namun kemudian penari-penarinya menghidupkan kembali ide ini, hanya saja konsepnya harus diubah. “Jika dulu kami ingin membuat film tentang Pina, maka kami membuat film untuk Pina,” jelas Ditta. “Pina” merupakan kumpulan kesan-kesan para penari Tanztheater Wuppertal terhadap Pina. Film ini juga diputar di Jakarta atas dukungan Goethe Haus Jakarta Agustus lalu.

Dalam rangka menuju Olimpiade 2012 London, London 2012 Festival juga menggelar World Cities 2012 dari Tanztheater Wuppertal, sebuah tribute untuk Pina. Selain itu, William Yang, fotografer yang memotret karya-karya Pina sejak tahun 1978, juga menggelar pameran foto di Sidney Opera House pada 2011 lalu. Ia mengenang betapa sulitnya memotret Pina yang pemalu.

William juga mengingat jawaban Pina jika ia ditanya bagaimana cara ia memilih penari. Seingat William Pina menjawab, “Jika saya bisa mencintai mereka.” Kini penari-penari Pina juga sedang berusaha membuat buku tentang orang kesayangan mereka itu.

William benar, Pina memang pemalu. Dari sifat itulah kalimat “Dance. Dance. Otherwise you are lost.” Sesungguhnya kalimat itu bukan asli karangan Pina. Itu adalah kalimat yang Pina dengar dari seorang gadis gypsi di Hungaria. Gadis itu mengucapkan kalimat yang selalu ia katakan kepada penari-penarinya karena Pina menolak malu-malu saat diajak menari.

Lantas apa yang paling dikangeni dari Pina? Ditta menjawab, “Matanya, yang selalu mengawasi kami meski tak memandang ke arah kami dan meski sedang terpejam.” Jika penari-penari ini sedang ‘lelah’, mereka selalu saling menyemangati dengan mengatakan, ”Bayangkan Pina sedang melihat kita.”

 

1440x990-a

1O0TasfTgNX1oymwovW2WAwuyWo

 

works:

1973

FRITZ

 

IPHIGENIE AUF TAURIS (IPHIGENIA IN TAURIS)

 

1974

ICH BRING DICH UM DIE ECKE (I´LL DO YOU IN)

 

ADAGIO – FIVE SONGS BY GUSTAV MAHLER

 

1975

ORPHEUS UND EURYDIKE

 

DAS FRÜHLINGSOPFER (THE RITE OF SPRING)

 

1976

DIE SIEBEN TODSÜNDEN (THE SEVEN DEADLY SINS)

 

1977

BLAUBART – BEIM ANHÖREN EINER TONBANDAUFNAHME VON BELA BARTOKS “HERZOG BLAUBARTS BURG” (BLUEBEARD – WHILE LISTENING TO A TAPED RECORDING OF BELA BARTOK’S “DUKE BLUEBEARD’S CASTLE)

 

KOMM TANZ MIT MIR (COME DANCE WITH ME)

 

RENATE WANDERT AUS (RENATE EMIGRATES)

1978

ER NIMMT SIE AN DER HAND UND FÜHRT SIE 
IN DAS SCHLOSS, DIE ANDEREN FOLGEN… (HE TAKES HER BY THE HAND AND LEADS HER INTO THE CASTEL, THE OTHERS FOLLOW …)

 

CAFÉ MÜLLER

 

KONTAKTHOF

 

1979

ARIEN (ARIAS)

 

KEUSCHHEITSLEGENDE (LEGEND OF CHASTITY)

 

1980

1980 – A PIECE BY PINA BAUSCH

1981

BANDONEON

 

1982

WALZER

 

NELKEN (CARNATIONS)

1984

AUF DEM GEBIRGE HAT MAN EIN GESCHREI GEHÖRT (ON THE MOUNTAIN A CRY WAS HEARD)

 

1985

TWO CIGARETTES IN THE DARK

 

1986

VIKTOR

 

1987

AHNEN

 

1989

PALERMO PALERMO

 

1990

DIE KLAGE DER KAISERIN

 

1991

TANZABEND II

 

1993

DAS STÜCK MIT DEM SCHIFF (THE PIECE WITH THE SHIP)

1994

EIN TRAUERSPIEL

 

1995

DANZÓN

 

1996

NUR DU (ONLY YOU)

1997

DER FENSTERPUTZER (THE WINDOW WASHER)

 

1998

MASURCA FOGO

 

1999

O DIDO

 

2000

KONTAKTHOF

 

WIESENLAND

2001

ÁGUA

 

2002

FÜR DIE KINDER VON GESTERN, HEUTE UND MORGEN (FOR THE CHILDREN OF YESTERDAY, TODAY, AND TOMORROW)

 

2003

NEFÉS

 

2004

TEN CHI

 

2005

ROUGH CUT

 

2006

VOLLMOND (FULL MOON) 

 

2007

BAMBOO BLUES

 

2008

‘SWEET MAMBO’

 

2009

“…COMO EL MUSGUITO EN LA PIEDRA, AY SI, SI, SI …”

About gitahastarika

Arsip kerjaan dan bukan kerjaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s