Perjalanan Panjang Memutus Dahaga

Zaman, teknologi, dan desain berkembang, begitu juga konsep minum air.

 

 

Saya mendengar dari seorang kerabat bahwa ada sebuah perusahaan air minum yang berencana untuk mendesain ulang galon airnya. Lalu pertanyaan pertama yang muncul adalah: “Apa yang salah dengan galon yang sudah ada? Bukannya itu sudah standar?”

Memang reaksi seperti itu sering muncul saat kita membicarakan sesuatu yang sudah lama berjalan. Sepertinya kebaruan menjadi mengada-ada. Kita juga sering menjawab pertanyaan, “Mengapa?” dengan jawaban, “Karena biasanya juga begitu.”

Desain sebuah produk yang bertahan lama memang memiliki potensi seperti itu. Bukan sekadar tren atau komoditi, desain bahkan bisa mendefinisikan sebuah aktivitas. Seperti misalnya galon air minum. Kita tak lagi peduli merk apa air yang kita minum, tetapi galon telah membangun konsep di kepala kita tentang minum itu sendiri.

Bagaimana cara kita minum? Air apa yang baik untuk kesehatan kita? Bagaimana cara menyimpan air yang benar? Konsep terbaik yang terlintas di kepala orang modern mungkin adalah menadahkan gelas di bawah mulut pancuran dari sebuah dispenser listrik. Air seketika dingin saat kita memencet tombol berwarna biru, dan serta merta panas ketika kita memencet tombol merah.

Dari mana air itu berasal? Bagaimana air dari mata air bisa masuk ke dalam galon? Kita tidak pernah mempertanyakan. Kita hanya mengerti saat galon sudah kosong, maka itu adalah waktunya untuk menggantinya dengan galon lain yang masih berisi air minum.

Sebelum dispenser popular, kita mungkin masih ingat di mana kita harus menyimpan air di dalam sebuah jerigen atau botol dan diletakkan di dalam lemari es. Maka konsep minum air dingin dan bersih adalah membuka lemari es, mengeluarkan botol dan menuangkannya ke dalam gelas.

Kini inovasi semakin maju dan terus berkembang. Bermacam-maca tipe dispenser pun bermunculan, bukan sekadar menyimpan dan mendinginkan atau memanaskan, tapi juga menyaring, hingga mensterilkan. Yang terakhir adalah semacam alat sterilisasi air minum bernama Pureit.

Apa memang air bisa diminum seinstan itu? Keraguan itu jelas mungkin terbersit di benak kita, mengingat konsep “minum” kita sudah terlalu identik dengan air kemasan dengan merk tertentu.

Lalu pernahkah kita bertanya siapa yang merancang galon air tersebut? Saya mencoba mencarinya di mesin mencari google tapi tidak menemukan jawabannya. Namun jika kita bertanya, siapa perancang mesin dispenser dengan pendingin seperti yang umum kita gunakan, rupanya ada jawabannya di artikel History of the Water Cooler yang diposting di http://scotwriter.hubpages.com/hub/History-of-the-water-cooler.

Mesin dispenser air minum ditemukan oleh Halsey Willard Taylor dan Luther Haws pada tahun 1906. Faucet air ini kemudian dipatenkan oleh Luther Haws tahun 1911. Sejak itu The Halsey Taylor Company and Haws Sanitary Drinking Faucet & Co merevolusi proses air minum. Latar belakang didesainnya alat dispensing seperti ini adalah terjadinya wabah typhoid akhibat tercemarnya air minum yang membuat ayah Haws’ meninggal. Karena itu tujuan utama didesainnya dispenser air minum adalah untuk menyediakan air minum yang lebih aman (purified water).

Dengan alasan yang serupa, yaitu mencegah penyakit karena tercemarnya air minum, Halsey Willard Taylor kemudian membuat keran (pancuran) air minum untuk anak-anak sekolah di Berkeley, dan ini menjadi keran air minum pertama di dunia.

Awalnya alat dispenser semacam ini hanya menyediakan air dalam suhu kamar. Namun karena permintaan akan air dingin begitu tinggi, maka selanjutnya didesainlah alat dispenser dengan pendingin pada tahun 1938. Karena proses pendinginannya saat itu menggunakan es balok, maka bisa dibayangkan jika mesin dispenser dengan pendingin saat itu sangat besar dan berat.

Penurunan suhu air tertentu saat itu dinilai merupakan suatu usaha untuk menjernihkan dan membebaskan air dari bakteri tertentu. Tetapi tetap saja saat itu dispenser tidak didesain dengan metode perlakuan air yang terukur tingkat efektivitasnya dalam membunuh kuman.

Berdekade-dekade berikutnya, seiring dengan perkembangan teknologi dan desain, dispenser air minum semakin mengecil, ringan, dan terjangkau. Kini orang-perorangan, masing-masing rumah tangga bahkan sudah bisa membelinya.

Dalam tahun-tahun terakhir, di mana desain dispenser tidak banyak berubah, kini inovasi dalam bidang air minum tidak lagi mengubah konsep atau cara minum, tapi untuk terus memperbaiki cara pemurnian air demi meningkatkan kesehatan masyarakat.

Kini hampir di setiap rumah modern orang sudah meminum air lewat alat dispenser seperti ini. Susah sekali membayangkan tidak ada dispenser di sebuah rumah. Karena desain galon dan alat dispenser dianggap sering mengganggu keindahan ruangan, desainer-desainer interior dan furniture pun sering menyembunyikannya ke dalam lemari built-in, atau mendesain sebuah penutup galon.

Akan tetapi bagaimana dengan zaman-zaman sebelum 1906? Sebelum dispenser seperti ini diciptakan? Sebelum zaman instan ini? Konsep meminum air pasti sangat berbeda. Yang menarik, saat orang masa kini tidak mengetahui secara pasti apakah air yang mereka minum sudah memenuhi standar kesehatan atau belum, orang-orang tua yang mendahului kita merasa air yang diminumnya itu sudah pasti menyehatkan. Orang zaman dahulu berani meminum langsung air tanpa penyaring bukan karena melihat kemasannya, atau dispenser macam apa yang dipakai, tapi dengan cara memilih mata air yang dianggap bersih dan belum tercemar.

Satu produk yang tak mungkin tak kita sebut untuk urusan air adalah kendi. Kendi masih dipakai sampai saat ini walau sudah banyak dilupakan. Yang menarik dari kendi adalah benda ini bisa dijelaskan hanya dengan satu kata, yaitu wadah. Kendi bisa difungsikan sebagai tempat menyimpan juga sebagai tempat air minum. Kendi juga bisa langsung menjadi alat untuk minum itu sendiri. Masyarakat tertentu justu kembali menggunakan kendi sebagai alat minumnya karena percaya air yang diinapkan di dalam wadah tanah liat tanpa glasur itu bisa menyehatkan tubuh. Dan jika perkembangan desain menuntut sebuah dispenser yang bisa mendinginkan air, orang justru percaya suhu air kendi yang sejuk namun tidak terlalu dingin bisa menyembuhkan penyakit-penyakit tertentu.

Namun harus diakui jika kendi tak lagi popular. Ada banyak benda sehari-hari yang menggantikan fungsi sebuah kendi. Sebagai alat penyimpan air minum kendi bisa digantikan dengan botol, jerigen, teko, dispenser, dan lain-lain. Sebagai tempat penyimpanan air kendi bisa digantikan dengan ember, tempayan, dan sebagainya. Sebagai alat minum air kendi bisa digantikan dengan gelas.

Kendi digunakan di seluruh wilayah nusantara sebagai benda keseharian yang standar dan mungkin saat itu tak ada yang mempertanyakan apa itu kendi. Selain itu kendi juga masih digunakan di luar negeri seperti India, Etiopia, dan negara-negara  di mana distribusi air dalam pipa belum ada.

Orang-orang yang tinggal di daerah-daerah yang masih menggunakan kendi sebagai alat distribusi air, penyimpan air dan wadah air minum seperti ini, mungkin tak punya gambaran pencet tombol biru atau merah sebagai konsep meminum air. Mereka hanya tahu kalau masing-masing kendi memiliki bentuk yang berbeda. Ada yang berbentuk sederhana seperti tempayan air. Ada pula yang memiliki lubang seperti mulut untuk menyalurkan air ke luar. Ada kendi besar dan ada kendi kecil.

Kini, di masa meminum air sudah semudah memencet tombol ditambah pula dengan segala inovasi alat penjernih dan pemurni air, kita mungkin tak bisa membayangkan jika harus melakukan hal yang dilakukan saat dispenser belum ditemukan.

Lalu alat apa yang Anda pilih untuk minum air? Apakah kembali ke cara lama, minum air kendi? Atau minum dari air yang termurnikan seperti dari pureit? Atau dengan dispenser yang standar saja?

Namun pertanyaan yang juga krusial untuk menjawab pilihan-pilihan tadi adalah apakah kita masih bisa mengakses air bersih yang layak untuk langsung diminum? Apa yang sudah kita lakukan untuk melestarikan air bersih, selain hanya mendesain alat penyimpan, distribusi, dan peralatan-peralatan semacam alat dispenser, galon, botol, gelas dan lemari es yang bisa memurnikan air yang sudah terlanjur berbahaya?

Dan apa pula yang kita rasakan dengan kondisi masa kini, setelah melihat masa lalu, atau melihat daerah-daerah di mana air pipa dan kemasan belum tersalurkan? Apakah merasa beruntung karena tak harus mengangkut air dengan menopang kendi di atas kepala kita dan memiliki alat-alat yang bisa menjamin kesehatan air minum kita? Atau merasa sedih karena tidak bisa meminum air langsung dari mata airnya karena sudah banyak mata air yang tercemar? Yang pasti kita bisa merasa bersyukur karena di bumi ini masih ada air, karena jika tidak, desain-desain dan metode apa pun takkan lagi berguna bagi kita.

<a
href=”http://lombablogpureit.blogdetik.com/&#8221; title=”Lomba Blog
#airpureit Berhadiah Utama Rp 10 Juta!” target=”_blank”><img
src=”http://lombablogpureit.blogdetik.com/files/2012/11/1ed2e73f4adfbbe8830d806aaca153d1_banner-lomba-pureit-300.gif”></a&gt;

About gitahastarika

Arsip kerjaan dan bukan kerjaan.

One comment

  1. aku nggak punya dispenser loh, walau pernah punya bayi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s