Dari WAF, Yang Tercatat

Pilihanku di World Architecture Festival 2012.

World Architecture Festival telah berlalu dan kita sudah tahu bangunan apa yang mendapat predikat Building of The Year. Selain itu, WAF juga memberikan penghargaan untuk kategori-kategori lainnya. Akan tetapi selain pemenang-pemenang tersebut, ada banyak bangunan menarik yang layak untuk dipelajari. Aku tidak bicara bahwa mereka yang seharusnya menang, hanya menarik, dan tak ada salahnya untuk dibicarakan. Beberapa di antaranya akan diulas di tulisan ini.

Liyuan Library, Beijing, China. Arsitek: Li Xiaodong atelier

Liyuan Library

Catatanku:

  • Bagaimana sang arsitek memahami site dan konteks bangunan secara geografis maupun budaya sangat menyentuh. Hal ini terlihat dari bagaimana konsep bangunan ini berawal, yaitu terinspirasi lukisan Cina kuno yang memperlihatkan sebuah rumah Cina tradisional di sebuah desa. Li Xiaodong melihat perpustakaan ini terletak di daerah dengan karakter yang mirip dengan lukisan tersebut. Maka yang ia lakukan adalah berusaha mendapatkan rasa yang sama, antara lain dengan mempersepsikan bangunan secara perspektif, sama seperti rumah-ruamh Cina tradisional pada lukisan kuno.
  • Intervensi bangunan bukan hanya secara fisik tapi juga secara sosial. Hal ini terjadi karena sejak awal dibuat sistem yang memungkinkan warga untuk bertemu dan berbagi pengetahuan. Sistem tersebut adalah tiap pengunjung yang membawa dua buku bisa membawa pulang satu buku.
  • Kualitas pencahayaan yang baik, yang didapat dari tiga lapis kayu yang dipasang pada fasadenya.
  • Memakai bahan lokal, yaitu kayu bakar yang biasa ditemukan di jalan-jalan di sekitar site.
  • Usaha mencapai bangunan yang beradaptasi dengan lingkungan dilakukan dengan teknologi yang cukup maju tapi bangunan tetap terkesan sederhana, yaitu dengan memanfaatkan air sungai dan angin sebagai pengatur suhu ruangan.
  • Antisipasi pemeliharaan bangunan di masa depan, khususnya kayu-kayu pada fasade, dengan cara mendesain kayu-kayu tersebut agar mudah dilepas dan diganti dengan kayu-kayu yang baru.

Cooled Conservatories at Gardens by the Bay, Singapura. Arsitek: Wilkinson Eyre Architects, London, United Kingdom

Photograph by Craig Sheppard

Photograph by Craig Sheppard

Catatanku:

  • Proyek ini bisa jadi sebuah proyek utopis jika di Indonesia. Memang kata utopis sudah harus ditinjau ulang sejak pembangunan Kota Dubai, Doha atau Shanghai yang bisa dibilang tidak ada presedennya sebelumnya. Tapi membayangkan ada sebuah bangunan seperti Cooled Conservatories Garden By the Bay yang menjadi rumah bagi ribuan tumbuhan tropis di atas sebuah tanah reklamasi – meski konon pasirnya diambil dari Indonesia – tetap bukan hal mudah. Mengapa? Karena fungsinya adalah taman, bukan mal, bukan kondominium atau hotel. Maka dari proyek ini kita bisa melihat bagaimana sebuah imajinasi (dalam arti positif) harus terkandung di dalam sebuah kebijakan kota, tidak cuma berhenti pada hal-hal praktis, atau ketakutan akan kegagalan.
  • Cooled Conservatories juga menjadi bangunan berfungsi display di mana orang bisa masuk dan berjalan-jalan di dalamnya. Cukup nyaman, meski bukannya sama sekali tidak panas. Kawasan Marina Baysands sudah pasti panas, tidak ada yang bisa membatahnya. Namun di bangunan ini rupanya teriknya matahari bisa diredam, dan bangunan ini tidak menggunakan AC.
  • Proyek ini menunjukkan bagaimana pentingnya tanaman dalam arsitektur dan kota. Karena itu jika ingin tahu apa fungsi seorang desainer lansekap, kita bisa melihat jelas bagaimana pentingnya peran Andrew Grant dalam proyek ini. aku takkan mengatakan taman yang ia rancang adalah taman yang cantik, tapi proyek ini jelas merupakan proyek yang luar biasa bagi semua desainer lansekap.
  • Proyek ini adalah proyek yang sangat besar, bisa dibilang megascale, dari luasannya, dan juga tim desain yang terlibat di dalamnya. Dari sini kita bisa belajar bahwa proyek-proyek yang baik sama sekali tidak ada hubungannya dengan skala proyek. Justru arsitek bisa melayani orang lebih banyak jika masuk ke dalam proyek-proyek besar, baik itu proyek komersil maupun sosial.

Stacking Green, Ho Chi Minh, Vietnam. Arsitek: Vo Trong Nghia

Photograph by Hiroyuki Oki

Photograph by Hiroyuki Oki

Catatanku:

  • Si arsitek mengerti apa yang ingin ia tawarkan kepada masyarakat. Hal ini terlihat pada saat ia mengatakan, “Ho Chi Minh itu mirip Jakarta. Padat, banyak polusi, kota di negara berkembang. Jadi jika ada yang menawarkan “hijau” dengan harga murah, mereka tak mungkin menolak.”
  • Ada pernyataan Vo Trong Nghia yang menarik sebagai arsitek. “Bodoh kalau arsitek tidak bisa membangun ide-idenya, lalu menyalahkan klien nya karena tidak bisa memahami permasalahan lingkungan atau belum sadar akan pentingnya desain untuk kehidupan mereka. Arsitek yang seharusnya lebih pintar.”
  • Konsep fasade bangunan bisa menjadi model yang diterapkan di semua tube house di Ho Chi Minch.
  • Kenyamanan suhu bangunan dihitung dengan akurat menggunakan program penghitung kecepatan udara yang dipelajari si arsitek saat mengambil kuliah tentang teknik jembatan.

Sony Corporation Sony City Osaki, Jepang. Arsitek: Nikken Sekkei Ltd.

Photograph by Yutaka Suzuki

Photograph by Yutaka Suzuki

Catatanku:

  • Kita bisa belajar dalam hal produksi energi dari bangunan ini.
  • Bangunan ini menggunakan material insulasi suhu yang sederhana tapi sering terlupakan, yaitu keramik.

Victoria Hotel, Kista, Sweden. Arsitek: Wingårdh Arkitektkontor AB, Swedia

Photograph by Ola Fogelström - Fotograf Ola Fogelström

Photograph by Ola Fogelström – Fotograf Ola Fogelström

Catatanku:

  • Melalui bangunan ini diketahui bahwa bangunan highrise bukan hal yang popular di Kota Stockholm. Keberhati-hatian arsitek dalam merancang bangunan ini boleh dihargai karena yang ia lakukan bukan sekadar membangun sebuah bangunan hospitality yang akan lebih banyak digunakan oleh warga dari luar Stockholm, tapi yang ia lakukan adalah mengubah skyline kota itu.
  • Bentuk bangunan high rise yang dipilih sangat sederhana, tapi juga kontemporer, sebuah massa yang cocok berada di tengah-tengah kota tua. Yang bisa membuat kita lega adalah pengakuan si arsitek bahwa banyak orang mengaku senang akan bangunan tersebut, meski pendapat ini tidak bisa dianggap mewakili semua orang.
  • Permainan fasade yang menarik dengan pola jendela berbentuk segitiga.

Okinawa Institute of Science and Technology , Jepang. Arsitek: Nikken Sekkei Ltd.

Photograph by Kouji Okamoto

Photograph by Kouji Okamoto

Catatanku:

  • Penguasaan arsitek terhadap kebiasaan peneliti layak dihargai. Mereka sadar benar bahwa ada perasaan inferior dan insecure di kalangan peneliti, dan hal itu membuat mereka lebih leluasa untuk berbagi isi pikirannya di pertemuan-pertemuan infromil. Niken Sekkei mengakomodir hal itu dengan cara membuat ruang-ruang servis di tengah-tengah bangunan, sebagai core dari bangunan tersebut. “Transfer pengetahuan yang sebenarnya itu terjadi pada saat peneliti mengantre fotocopy, menunggu kertas di-print, membuat kopi atau teh, atau kegiatan-kegiatan semacam itu.”
  • Kemauan arsitek untuk mempelajari pulau tersebut. Arsitek memulai perancangannya dengan meneliti biota yang ada di pulau tersebut dan dari situ mereka memutuskan letak dan bentuk massa bangunan.

NOMA Lab, Copenhagen, Denmark. Arsitek: GXN (Innovation Unit of 3XN) 

Photograph by Adam Mørk

Photograph by Adam Mørk

Catatanku:

  • Kolaborasi antara arsitek dengan chef (pengguna bangunan) pada proyek ini menarik karean sifatnya equal. Inovasi yang dihasilkan pada proyek ini merupakan hasil komunikasi. Pada presentasinya, si arsitek mengawali dengan cerita tentang para chef dan bagaimana mereka bekerja sama. Ini adalah sebuah metode yang tidak terlalu banyak dipakai oleh arsitek-arsitek di Indonesia.
  • Arsitek proyek ini memakai metode yang saat ini mulai banyak dipakai arsitek-arsitek di dunia, yaitu fabrikasi dengan computational design. Namun yang menarik 3XN memperkenalkan satu istilah baru, yaitu digital craftsmanship. Istilah ini berarti bahwa bangunan yang berfungsi sebagai tempat riset bagi para chef ini dirancang dan dibangun dengan metode kriya, di mana tiap detailnya diputuskan bersama antara arsitek dan para chef, tapi dibuat dengan bantuan teknologi. Memang tak ada bedanya dengan inti dari fabrikasi, tapi pemahaman 3XN ini menarik, karena dari situlah kita bisa tahu jika ia benar-benar menangkap esensi dari pemakaian fabrikasi pada arsitektur yang ia rancang, yaitu arsitek terlibat langsung dari awal sampai akhir proses desain dan konstruksi (seperti seorang pengrajin), tapi tidak dilakukan dengan tangan, melainkan dengan mesin.
  • Di proyek ini terdapat 249 lembar veneer, 5283 bagian-bagian, dan 11472 potongan.

Plaza España in Adeje, Tenerife, Spanyol. Arsitek: Menis Arquitectos SLP, Santa Cruz de Tenerife, Spain

Photograph by Simona Rota

Photograph by Simona Rota

Catatanku:

  • Arsitek ini berhasil dalam membuat sesuatu yang baru di atas yang lama tanpa terlihat melakukan sesuatu. Jika kita lihat dari foto, kita sulit mengerti bagian yang mana yang dirancang oleh arsitek ini. akan tetapi kehadiran plasa ini menjadi sesuatu yang signifikan karena plasa ini berfungi untuk mewadahi kegiatan-kegiatan yang tadinya tidak tertampung di kawasan tua ini. dengan demikian tujuan bangunan ini bisa dianggap cukup berhasil, yaitu “to bring people to the natural environment”.
  • Keberadaan plasa ini berfungsi memperkuat relasi antara kota dengan lansekap alami di area ia berada.

Brick Pattern House, Teheran, Iran. Arsitek: mashhadimirza Architects (Allireza Mashhadimirza), Iran

Photograph by Habibeh Madjdabadi

Photograph by Habibeh Madjdabadi

Catatanku:

  • Perumahan ini adalah contoh baik di mana keputusan-keputusan pragmatis tidak membuat desain menjadi tumpul.
  • Inti dari desain perumahan ini adalah masalah budget, karena perumahan ini dibuat untuk komunitas kelas sosial bawah dan terletak di daerah miskin.
  • Dari proyek ini juga terbukti jika royek pragmatis yang sangat berorientasi pada budget bisa mengarah ke masalah sustainability. Arsitek ini menggunakan bata yang merupakan produk unggulan daerah tersebut. Dengan demikian ia menggunakan produk lokal yang tentu saja harganya bisa ditekan, sekaligus tidak menciptakan banyak jejak karbon, dan selain itu juga merevitalisasi dan memberi nilai baru terhadap bata, yang bagi warga daerah tersebut merupakan produk tradisi.
  • Pada proyek ini, pekerja bangunan adalah warga itu sendiri.
  • Memberdayakan warga untuk membangun rumahnya sendiri ini bukan hanya masalah romanstisme terhadap metode membangun masa lalu (gotong-royong), tapi cara ini mengizinkan terjadinya transfer pengetahuan akan konstruksi, estetika, dan nilai-nilai bekerjasama yang baru.
  • Metode yang diaplikasi arsitek dalam membuat konstruksi bata terbilang unik, karena ia membuat kodifikasi masing-masing sambungan agar semua orang bisa dengan cepat memahami konsep sambungan bata tersebut.
  • Bagaimana arsitek memposisikan dirinya dalam proyek ini juga patut dihargai, karena ia berusaha sekali meminimalisir peran langsungnya terhadap proyek dengan cara membuat gambar secukupnya, juga mengurangi supervisi. Sebagai gantinya adalah transfer pengetahuan dan kodifikasi yang ia rancang. Mengapa hal ini dirasakan perlu? Kembali jawabannya untuk mengurangi biaya.

Museum of Old and New Art (MONA), Hobart, Australia. Arsitek: Fender Katsalidis Architects, Southbank, Australia 

Photograph by Leigh Carmichael - Leigh Carmichael Photography

Photograph by Leigh Carmichael – Leigh Carmichael Photography

Catatanku:

  • Yang paling menarik dari proyek ini adalah site-nya. MONA terletak di sebuah lahan bekas winery. MONA juga terletak di ujung selatan Australia. Pertanyaannya adalah: Sudah gila apa membangun museum seni yang begitu besar di lokasi entah-berantah seperti ini? Tapi nyatanya, museum ini benar-benar berdiri.
  • Bagian dari bangunan yang bisa langsung menarik perhatian adalah dinding-dinding interiornya yang merupakan bebatuan alami yang dipapras, masih sama kondisinya dengan dulu saat masih menjadi winery.

Kantana Film and Animation Institute, Nakhorn Pathom, Thailand. Arsitek: BANGKOK PROJECT STUDIO, BANGKOK, Thailand

Photograph by Pirak Anurakyawachon - Spaceshift Studio

Photograph by Pirak Anurakyawachon – Spaceshift Studio

Catatan:

  • Presentasi proyek ini agak minim. Fotonya sedikit dan kurang bisa menjelaskan keseluruhan bangunan, sementara siteplan-nya terlalu kecil. Tapi ada satu hal yang langsung terlintas di benak saya begitu saya melihat proyek ini: mirip candi di Jawa Timur atau pagar di Bali. Hal ini karena bangunan ini menggunakan material bata ekspos, dan dinding-dindingnya dibuat berlekuk seperti pagar-pagar rumah tradisional Jawa atau Bali.
  • Yang menarik lagi dari proyek ini adalah dinding-dindingnya (inhabit hall) yang juga berfungsi sebagai ruang. Maka menyelinap di dalam dinding ini, manusia bisa duduk, membaca, atau tidur dengan aman.
  • Bangunan ini, jika dilihat dari foto-fotonya, memang agak mirip dengan prinsip sebuah candi. Di dalamnya kita tak bisa menemukan banyak hal kecuali ruang kosong. Dari luar bangunan terasa massif dan tebal, tapi di dalamnya ada rasa intim yang tenang.
  • Si arsitek menyatakan metode perancangannya adalah creative destructive. Sejujurnya aku tidak bisa memahami apa yang ia maksud selain ingin membuat gimmick. Namun dugaanku, metode yang ia maksud itu ada hubungannya dengan usaha sadar untuk membuat sebuah bangunan menjadi tidak menarik secara visual, yang menurutku pun tidak sepenuhnya benar karena secara visual bangunan ini justru menarik. Entah si arsitek menyadari atau tidak, tapi pencarian akan nilai estetika ini rupanya membawanya kembali kepada nilai-nilai yang biasa ditemukan pada bangunan-bangunan bersejarah dari timur.

Rebuild Future Out of Rubble Schools, Kaohsiung City, Taiwan. Arsitek: Bio Architecture Formosana, Taipei, Taiwan

Rebuild Future Out of Rubble

Catatanku:

  • Bangunan sekolah ini didirikan karena sebuah alasan yang kuat: bangunan sebelumnya hilang tersapu angin Typhoon. Untuk alasan itu, menyimak proyek ini menjadi penting, mengingat Indonesia sangat rawan bencana alam seperti angin topan, banjir, gempa bumi, sampai tsunami.
  • Yang menarik dari arsitek ini adalah, saat ia diberikan proyek ini ia langsung mempertanyakan: how do we reconstruct and bring new life to the village? Pertanyaan ini menyiratkan ada dua hal yang terkandung pada visi arsitektur ini, yaitu masa lalu dan masa depan.
  • Menarik melihat bagaimana vokabulari arsitektur tradisional dibawa ke konteks masa kini, sehingga bisa berdaya di masa depan. Hal ini ternyatakan dari bagaimana perpustakaan dibuat berdasarkan inspirasi dari arsitektur rumah pertemuan, Zou, dan sekolahnya dibuat dengan inspirasi rumah tinggal tradisional, Bunun.
  • Bangunan ini juga berusaha untuk mendukung sustainability.

 

 

Pemenang WAF Award 2012:

Award winners:

Building of the year: Conservatory Garden By the Bay. Arsitek: Wilkinson and Eyre

Landscape Project of the Year: Kallang River Bishan Park, Singapore. Arsitek:  Atelier Dreiseitl

Director’s Prize: Plaza España in Adeje, Tenerife, Spanyol. Arsitek: Menis Arquitectos SLP, Santa Cruz de Tenerife, Spain

Future Project of the Year: Msheireb – Heart of Doha, Qatar.  AECOM

Student Team of the Year: “In the Core of Renaissance Architecture”. University of Ferrara, Italy

Small Project Award: Marina Bay Station, Singapore. Arsitek: Aedas

Small Project Award: Office for an Advertising Film Production Company, Bangalore, India. Arsitek: SJK Architects

Completed Buildings – Category winners

Civic and Community: Salorge / Town Community, Pornic, France. Arsitek: Arcau

Culture: Liyuan Library, Beijing, China. Arsitek: Li Xiaodong Atelier

Display: Cooled Conservatories at Gardens by the Bay, Singapore. Tim desainer: Wilkinson Eyre, Grant Associates, Atelier One and Atelier Ten.

Health: The Royal Children’s Hospital, Melbourne, Australia. Arsitek: Billard Leece Partnership and Bates Smart

Higher Education and Research: University of Arts London Campus for Central Saint Martins, King’s Cross, London. Arsitek: Stanton Williams

Hotel and Leisure: Victoria Tower, Sweden. Arsitek: Wingårdh Arkitektkontor

House: Stacking Green, Ho Chi Minh, Vietnam. Arsitek: Vo Trong Nghia

Housing: Martin No. 38, Singapore. Arsitek: Kerry Hill Architects Pte Ltd

New and Old: Plaza Espana, Adeje, Spain. Arsitek: Menis Arquitectos SLP

Office: Darling Quarter, Sydney, Australia. Arsitek: Francis-Jones Morehen Thorp

Production, Energy and Recycling: Sony Corporation, Japan. Arsitek: Nikken Sekkei

Schools: Binh Duong School, Vietnam. Arsitek: Vo Trong Nghia Architects

Shopping: Xtra – Herman Miller shop in shop, Singapore. Arsitek: P.A.C

Shopping Centres: T-Site, Japan. Arsitek: Klein Dytham Architects

Sport: Fazenda Boa Vista Golf Clubhouse, Brazil. Arsitek: Isay Weinfeld

Transport: Bodrum International Airport, Turkey. Arsitek: Tabanlioglu Architects

Villa: Shearer’s Quarter, North Bruny Island, Australia. Arsitek: John Wardle Architects

About gitahastarika

Arsip kerjaan dan bukan kerjaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s