Paul Finch: Visi di Balik World Architecture Festival

Obrolan singkat di sela-sela festival.

Paul-Finch

Jika kita berbicara tentang World Architecture Festival, tidak cukup hanya membicarakan bangunan-bangunan indah yang masuk shortlist untuk penghargaan bangunan terbaik tahun ini, tidak juga cukup dengan mendengar arsitek-arsitek top dunia berbicara, apalagi sekadar duduk satu ruangan dengan arsitek-arsitek kawakan yang proyek dan pemikirannya sering kita baca di buku-buku referensi. Bicara WAF 2012 sama juga berbicara tentang orang yang berada di balik kesuksesan festival tahunan yang tiketnya sangat mahal ini. Ia adalah Paul Finch, inisiator festival ini, sekaligus direktur program WAF tahun ini.

Tak banyak yang pernah menulis tentang Paul Finch. Jika kita memasukkan namanya di dalam mesin pencari google, kita malah menemukan Paul Finch aktor Hollywood yang memerankan tokoh anak manis di film American Pie. Namun di dunia arsitektur, khususnya di Inggris, Paul sama sekali bukan orang baru. Selain menjadi direktur program WAF, saat ini ia juga menjabat deputy chair of the Design Council.

Sebagai direktur program, pria kelahiran London tahun 1949 ini bukan tipe pemimpin yang senang duduk manis atau yang baru menampakkan wajahnya di puncak acara. Paul selalu bisa ditemui di sepanjang festival ini karena ia selalu berjalan ke sana ke mari memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Ia sadar posisinya sebagai host dengan menyapa arsitek-arsitek yang ia kenal. Tiap kuliah utama akan dimulai, ia pun harus naik ke atas panggung, memperkenalkan tiap pembicaranya.

Paul mengawali kariernya dengan menjadi jurnalis media-media arsitektur Inggris seperti Building Design (BD) pada tahun 1983 sampai 1994, Architects’ Journal sejak 1994 sampai 1999, dan Architectural Review sejak 2005 sampai 2009. Mungkin ini mengapa ia tak banyak dibicarakan atau ditulis, karena ia selalu menjadi orang yang berada di balik tulisan, mengangkat macam-macam isu di dunia arsitektur. Namun sebelum mengambil kuliah jurnalistik taun 1972, ia merupakan lulusan sejarah di Selwyn College, Cambridge.

Bertahun-tahun bekerja di balik layar, kemudian ia mulai berorganisasi secara aktif di CABE sejak 1999. Di organisasi itulah ia mulai menyelenggarakan diskusi-diskusi panel arsitektur dengan menjadi ketua panel design review selama lima tahun, dan panel regional selama tiga tahun. Sejak 2005 dia juga memimpin panel Olympic design review, menyelenggarakan panel-panel yang me-review Olympic Village dan Westfield shopping center di Stratford secara terpisah.

Di sela-sela kesibukannya mengorganisir WAF dan jetlag yang masih melekat, kami sempat mengobrol secara informal – di antara ruang-ruang konferensi Marina Baysands yang sangat dingin – tentang arsitektur yang baik, tentang festival ini sendiri, dan sedikit tentang profesi kurator.

Saya lihat tema-tema kuliah pada WAF tahun ini banyak menyoroti narasi-narasi besar, seperti rapid urbanization, megascale city, globalisasi, dsb. Apakah ini merupakan visi WAF tahun ini, yaitu lebih melihat arsitektur dari kacamata yang lebih luas?

Memang kami mengangkat isu-isu besar tahun ini. tapi WAF tidak bermaksud untuk memfokuskan kepada hal-hal besar seperti itu saja. Dan hal ini tidak ada hubungannya dengan WAF award, karena kita bisa melihat proyek-proyek kecil pun masuk ke dalam shortlist-nya. Tapi memang arsitek memiliki peran yang lebih luas dan semakin penting tiap tahunnya. Jika kita melihat pembangunan-pembangunan besar di kota-kota besar saat ini, seperti Singapura, Dubai, Beijing, Shanghai, dan kota-kota lainnya, kita bisa melihat bagaimana arsitek sangat berperan dalam membentuk sebuah kota. Salah satunya kawasan Marina Baysands yang arsiteknya Moshe Safdie ini.

Tapi apakah kapasitas itu ada di level yang lebih tinggi lagi, seperti kebijakan pemerintah kota atau negara tersebut, misalnya.

Itu benar, tapi arsitek adalah salah satu pemain dalam pembangunan. Dan sebagai salah satu pemain, arsitek harus membuat “statement”. Maka arsitek harus menyadari peran ini.

Dengan kondisi seperti itu, jadi apa peran arsitek yang terpenting saat ini?

Well, I don’t think it ever changes. Bertanggung jawab, berempati dan bersimpati bukan hanya kepada orang yang akan menggunakan bangunan itu, tapi juga orang-orang yang akan terkena dampak dari hadirnya bangunan itu. Hanya dengan melihat bangunan tersebut, sebenarnya orang sudah terpengaruh dan terimbas oleh gedung-gedung tersebut. Saat anda mendesain sebuah bangunan, apa yang anda lakukan kepadanya dan lingkungan di sekitarnya?

Lalu bagaimana kualitas entry tahun ini dibanding tahun lalu?

Sangat tinggi kualifikasinya, tapi sulit untuk membandingkan satu tahun dengan tahun lainnya. Kadang di satu tahun entry untuk satu kategori lebih banyak daripada kategori lainnya, dan sebaliknya di tahun setelahnya. Dalam lima tahun terakhir, ada lebih banyak entry untuk projek-proyek lansekap atau proyek-proyek yang berorientasi kepada alam. Secara general saya rasa isu lingkungan menjadi agenda penting bagi arsitek. Isu itu menjadi sangat signifikan mulai dari 2008 dan semakin mendesak tiap tahunnya. Isu ini menjadi debat di mana-mana. Namun jika dibanding dengan tahun lalu, entry dari Negara-negara Eropa seperti Inggris misalnya mungkin tidak terlalu banyak karena memang tidak banyak yang sedang terjadi di sana. Ini mungkin sebabnya tahun ini lebih banyak entry dari China, Singapura, India, dan Australia. Tapi tetap saja, semakin banyak entry yang kita dapat tidak menjamin kualitasnya akan meningkat. Jika kita melihat panel-panel nominasi WAF award, ada banyak gaya dan banyak sekali bangunan yang bagus. Tapi terlihat bagus itu tidak cukup. Anda pasti sudah tahu tentang itu. Karena itulah arsitektur yang baik tidak pernah berhenti pada masalah bentuk.

Di Indonesia permasalahan estetika atau bentuk masih menjadi perdebatan. Apa menurut anda hal tersebut sudah tidak penting lagi?

Kami tidak punya isu tentang bentuk atau gaya. Kami tidak ingin mencontohkan bangunan apa yang bagus atau tidak. Saya rasa tiap orang bisa menjawab bangunan seperti apa yang bagus menurut mereka. Dan semua orang bisa memasukkan bangunannya ke panitia tanpa requirement seperti itu.

Estetika itu penting. Zaha Hadid yang bangunannya selalu berbentuk seperti sebuah patung pernah memenangkan penghargaan WAF dua tahun lalu. Tapi ini bukan masalah bentuknya, karena bangunan itu memang didesain dengan sangat serius.

Orang bisa terganggu atau tertarik pada penampilan. Tapi desain harus bicara tentang apa yang isu yang ia bawa seperti program spesifik dalam waktu yang spesifik. Jka kita melihat panel-panel nominasi WAF award, ada banyak gaya dan banyak sekali bangunan yang bagus. Tapi terlihat bagus itu tidak cukup. Anda pasti sudah tahu tentang itu.

Apakah kriteria khusus yang harus dimiliki sebuah bangunan untuk memenangkan building of the year?

Pertanyaan ini bagus. Jadi pertanyaannya adalah apa yang dibutuhkan sebuah bangunan untuk dinilai baik. Tentu saja kami memberikan saran kepada para juri. Kami tidak punya spesifik kriteria karena juri-jurinya sudah sangat berpengalaman. Khususnya karena kami tidak mengunjungi bangunan-bangunan tersebut. “Order, clarity, and there’s nothing wrong to say, catchy or beautiful.” Yang paling penting adalah “What you see is what you get”. Misalnya saat kita berbicara tentang halaman terbuka, itu terlihat pada denah atau potongan. Namun tentu saja bangunan juga membutuhkan pakaian. Jadi semua penjelasan itu bisa kita lihat dari denah atau potongannya dan tentu bisa dirasakan jika kita berada di dalam bangunan tersebut.

Apakah terlalu mudah untuk mendapatkan bangunan yang bagus saat ini? Karena dengan perkembangan industri arsitektur tentu arsitek-arsitek saat ini bisa menciptakan arsitektur yang lebih baik. Saya juga melihat banyak sekali entry yang bagus di festival ini.

Itu tergantung apa definisi kita tentang bagus atau indah. Orang-orang yang menyukai rumah-rumah tradisional mungkin tidak bisa menghargai bangunan lainnya karena masalah selera. Tapi jika kita melihatnya begitu saja tentu saja banyak faktor lain yang membut begitu banyak proyek yang enarik saat ini. Fotografer arsitektur yang jauh lebih baik dan lebih banyak adlaah salah satunya. Tapi bagus atau indah memang tidak pernah cukup sejak dulu. Jika tidak berfungsi dengan baik tidak ada gunanya meski bagaimanapun bentuknya.

Kota seperti apa yang bisa dijadikan lokasi WAF? Apakah harus kota yang memiliki arsitektur yang baik?

Memiliki arsitektur yang baik adalah satu factor yang mendukung jika kita ingin menyelenggarakan festival arsitektur. Namun saya rasa WAF memilih Singapura bukan karena faktor itu. Kota tersebut bisa di mana saja tapi yang pasti kota tersebut harus internasional, harus mudah dijangkau, dan orang dari seluruh dunia mengenalnya. Tersedia airport, akses, fasilitas, ruang yang cukup. Saya tidak pernah bepergian ke Indonesia, tapi saya yakin di sana terdapat fasilitas yang memadai juga. Namun untuk tiga tahun ini kami sudah ‘menikah’ dengan Singapura.

Anda mengawali karier sebagai seorang jurnalis. Apakah kurator adalah langkah berikutnya dari seorang jurnalis?

Ya, saya rasa demikian. Event bisa terjadi secara cetak maupun langsung. Dan jurnalis dalam hal ini mempunyai kelebihan karena kita mengerti subjeknya. Dengan perkembangan media sosial apalagi, semua menjadi lebih cepat, kita bisa mengikuti sebuah event secara global hanya melalui twitter, dsb. Akan tetapi orang selalu merindukan pertemuan langsung, ini mengapa membuat live event tetap penting dan tak tergantikan.

Apakah ini berarti menulis saja tidak cukup?

Writing is enough if you’re good enough. Tapi menjadi kurator dan menyelenggarakan event secara langsung juga penting, karena dengan begitu kita bisa menghubungkan semua pelaku.

About gitahastarika

Arsip kerjaan dan bukan kerjaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s