Mencari Bangunan Terbaik

Seberapa sulitkah menentukan bangunan yang terbaik di antara semua yang baik?

Memang tidak mudah menentukan bangunan yang terbaik dalam satu tahun di seluruh dunia. Kita bisa proyeksikan hal itu dari begitu banyaknya entry yang masuk ke panitia World Architecture Festival (WAF) tahun ini. Tidak hanya itu, memilih sebuah bangunan untuk dinobatkan sebagai yang terbaik juga menjadi lebih sulit karena skala masing-masing proyek beragam dengan kategori yang begitu luas.

Dalam WAF 2012, Bangunan-bangunan yang berlomba untuk mendapatkan predikat bangunan terbaik tahun ini terbagi menjadi 16 kategori bangunan terbangun: Komunitas dan Sipil; Kebudayaan; Kesehatan; Pendidikan Tinggi dan Penelitian; Hotel and Leisure; Rumah; Perumahan; Baru dan Tua (New and Old); Kantor; Produksi, Energi dan Daur ulang; Sekolah; Toko; Pusat Perbelanjaan; Olah Raga; Transportasi; dan Villa. Selain itu ada pula proyek lansekap dan proyek kecil.

Maka pertanyaannya adalah, apa kriteria yang harus dimiliki sebuah bangunan untuk dinilai baik? Apakah keindahan, fungsional, menyelesaikan masalah lingkungan, berskala besar, atau berteknologi canggih?

Menjawab hal tersebut, Direktur WAF 2012, Paul Finch, menyatakan arsitektur masa kini memang menghadapi isu-isu yang lebih besar dari masa-masa sebelumnya. Masalah lingkungan yang menurutnya mulai terlihat sejak tahun 2008, menjadi semakin signifikan tiap harinya. Proyek-proyek yang masuk ke panitia tahun ini memang harus menghadapi tantangan perubahan iklim, sesuai dengan tema besar festival, yaitu ‘Rethink and Renew’, menekankan inovasi dan pendekatan yang kreatif kepada bangunan eksisting dan area di mana bangunan itu berdiri. “Dalam lima tahun terakhir, kami mendapatkan lebih banyak proyek-proyek lansekap dan semakin banyak proyek yang berorientasi alam,” ujar Finch.

Selain itu, para nominasi juga berlomba-lomba berinovasi dalam menggunakan material, misalnya saja firma asal Jepang Nikken Sekkei lewat proyek Sony Corporation yang memenangkan kategori “production, energy dan recycle” dengan menggunakan keramik sebagai material insolasi panas, Li Xiadong Atelier, pemenang kategori budaya yang mengatur suhu Perpustakaan Liyuan dengan teknologi pada atap dan  pompa air sungai, atau Vo Trong Nghia, pemenang kategori rumah, yang membuat model rumah Stacking Green yang bisa diaplikasikan di semua rumah-rumah tube yang umum di Kota Ho Chi Minh.

Isu-isu besar seperti pembangunan berskala mega dan perkembangan urban yang pesat juga dibenarkan menjadi salah satu hal yang banyak dipikirkan oleh arsitek saat ini. Sesuai tema festival, WAF 2012 juga bermaksud mempertanyakan kembali peran arsitek, apakah tujuan perannya sudah terpenuhi, dan apakah sudah memiliki pengaruh yang significan bagi pengguna bangunan dan ruang yang ia desain. Menurut Finch, sebagai salah satu pelaku dalam pembangunan, arsitek masa kini lebih banyak mengambil peran dalam pembangunan berskala besar, misalnya saja adalah peran Moshe Safdie pembangunan proyek-proyek besar di Singapura, atau arsitek-arsitek dunia di kota-kota Asia seperti Shanghai, Dubai.

Isu-isu revitalisasi dan urban infill yang banyak dialami kota-kota pasca-industri diseluruh dunia juga dianggap kritis dan mendapatkan sorotan tersendiri lewat kategori “New and Old”. Pemenang kategori ini, Plaza Espana karya Menis Arquitectos SLP asal Santa Cruz de Tenerife, Spanyol, bahkan mendapatkan Director award tahun ini.

Dari peserta WAF award, bisa disimpulkan kota-kota besar di Asialah yang saat ini berkembang pesat. “Dibanding tahun-tahun sebelumnya lebih banyak peserta dari negara-negara Asia seperti China, Singapura, India, dan Vietnam, juga Australia. Hal ini wajar karena memang tidak banyak yang terjadi di negara-negara Eropa seperti Negara saal saya, Inggris, khususnya karena krisis ekonomi yang berkepanjangan”

Akan tetapi menurut Finch, peran arsitek tidak pernah berubah. Baginya yang terpenting bagi arsitek adalah bertanggung jawab, berempati dan bersimpati, tidak hanya kepada orang yang memakai karyanya (ia bahkan tidak menyebut pemilik bangunan-red), tapi juga kepada semua orang yang terkena dampak dari pembangunan gedung itu. “Mungkin hanya ada beberapa orang yang benar-benar mengalami bangunan tersebut. Namun sesungguhnya hanya dengan melihat bangunan itu saja, orang sudah terkena dampaknya.”

Akan tetapi tentu saja desain yang baik tidak hanya tentang penampilan atau bentuk. “Jika kita melihat panel-panel nominasi WAF award, ada banyak gaya dan banyak sekali bangunan yang bagus. But beauty is not enough. Tentu saja desain harus menarik dalam aspek estetika, tapi saya rasa jika hanya itu, maka kita bisa serahkan kepada seorang stylist.” Di luar masalah estetika, desain harus bicara tentang isu yang ia bawa melalui program spesifik dalam waktu yang spesifik.

Lebih dari itu semua, menurutnya yang terpenting dalam menilai sebuah bangunan adalah, “What you see is what you get.” Maksudnya adalah sebuah bangunan harus jelas memiliki order dan kejelasan (clarity). Semua penjelasan dan tujuan dari bangunan ini bisa dilihat dari gambar denah atau potongannya, apakah sirkulasi udara bangunan tersebut baik, apakah ia memiliki cukup ruang sosial dan ruang terbuka, atau apakah ia memiliki kualitas ruang yang baik. Sementara itu bentuk atau penampilan, meski juga penting, hanyalah ‘pakaian’ yang bisa menipu, khususnya karena sudah ada banyak fotografer arsitektur yang baik saat ini. Penjelasan lisan si arsitek pun tak akan banyak memberikan impresi jika tak bisa dirasakan atau dilihat melalui gambar desain atau perasaan saat mengalami ruang tersebut.

Dengan pertimbangan tersebutlah WAF menobatkan Cooled Conservatories at Gardens by the Bay karya Wilkinson Eyre Architects, asal London, Inggris sebagai building of the year. Cooled Conservatory bukan hanya menawarkan sebuah desain bangunan dengan struktur bentang lebar yang menarik atau menjual gimmick “green”. Dengan bantuan arsitek lansekap Grant Associates, Environmental Engineer Atelier Ten asal Inggris, Desainer Irigasi WET (Water Equipment Technology) asal Australia, Architecture & Engineering Support dari CPG Corporation asal Singapura, dan bantuan profesional lainnya, proyek ini benar-benar membawa cita-cita kota taman ke dalam kenyataan, yaitu membangun sebuah taman berskala kota di atas tanah reklamasi, tidak menggunakan pengatur udara sama sekali, dan di dalamnya benar-benar hidup dan tumbuh berbagai tanaman tropis. “Kami menciptakan lansekap dramatis yang sesungguhnya di atas lahan yang benar-benar datar,” pungkas Wilkinson Eyre.

About gitahastarika

Arsip kerjaan dan bukan kerjaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s