Lembaga Survey Jalanan

 “Bagaimana, bu, pak, kelanjutan kasus Wisma (Atlet)? Di sini dijelaskan ya, pak, bu, pengadilan akan segera panggil Anas sebagai saksi. Kapan dipanggilnya, pak? Silakan dibaca di Media Indonesia halaman paling depan, ya, bu, pak.”

Apa yang menurut Anda menjadi kunci sukses sebuah media, baik itu surat kabar harian atau mingguan, tabloid atau majalah? Apakah itu artikel yang bernas? Berita-berita dengan judul sensasional? Atau malah, banyaknya iklan? Dukungan finansial dan moral dari partai politik tertentu? Atau pemimpin redaksi yang memiliki banyak akses ke kapital dan penguasa?

Pers masa kini memang terjerat dalam urusan-urusan yang lebih kompleks. Hal ini mengakibatkan kerja mereka tidak hanya menyampaikan informasi akan kepentingan-kepentingan publik melalui artikel yang baik secara kode etik jurnalistis. Dalam diskusi “Pers Kita Hari ini” di Polemik Sindo Radio, 11 Februari lalu, sosiolog Universitas Indonesia, Tamrin Tomagola, mengatakan, di saat dunia media berkembang dengan pesat, ketakutan wartawan yang tadinya kepada militer, kini beralih kepada pemilik modal. “Sekarang teknologi dan modal memegang peran di media. Pemilik modal jauh lebih besar pengaruhnya untuk berkompetisi dengan media lain. Serba cepat, tapi tidak memperhatikan apa yang seharusnya dilakukan pers, yaitu untuk kepentingan publik, bukan sekadar cepat.”

Masalah ini juga pernah diangkat oleh Wahyu Dhyatmika dan Umar Idris [Ketua dan Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta] pada situs resminya. “Pemusatan kepemilikan media di tangan sejumlah konglomerat yang punya agenda politik tertentu makin memperburuk keadaan, dan seolah membenarkan persepsi publik yang kian kritis mempertanyakan imparsialitas wartawan.” AJI melihat hal ini akan berdampak pada kepercayaan publik kepada media karena publik cenderung menggeneralisasi, menganggap semua jurnalis punya agenda yang sama.

Dalam hal ini, tentu tekanan kepada wartawan media cetak lebih berat. Tidak hanya menghadapi masalah yang disebutkan di atas, tapi wartawan media cetak juga harus berkompetisi dengan media-media online yang semakin tak terbendung, ditambah juga dengan banyaknya jurnalis warga yang menulis lewat blog pribadi dan media sosial.

Banyak pendapat skeptis tentang industri media cetak pun bermunculan. Media cetak kemudian dianggap akan ditinggalkan sedikit demi sedikit. Artikel yang baik, bernas, dan berpihak pada kepentingan orang banyak pun semakin langka karena yang diutamakan hanya kecepatan dan tulisan-tulisan yang menyenangkan hati para pemilik modal.

Namun Heru, seorang lopper Koran yang tiap harinya berjualan koran dan tabloid dari bis ke bis, memiliki pendapat lain. Ditemui di sela-sela pekerjaannya di dekat lampu merah Slipi, ia mengatakan tidak terlalu khawatir dengan segala persaingan bisnis dan agenda politik para pemodal surat kabar.

Bagi Heru, yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidupnya pada industri media, banyaknya uang yang ia bawa pulang hari itu hanya bergantung pada berita yang ditulis oleh seorang jurnalis. “Yang terpenting itu beritanya bagus. Pasti koran laris. Kalau tidak ada yang menarik, saya susah jualnya. Orang pasti tidak mau beli.”

Heru memang bukan loper koran biasa, setidaknya gayanya berjualan koran luar biasa. Tak hanya berdagang koran dan tabloid dengan menyebutkan nama-nama dan harganya, ia membacakan sinopsis berita-berita apa saja yang disajikan dari meja redaksi. Hal ini menyadarkan kita ada yang sering lupa dimasukkan ke dalam rantai industri media, yakni lopper. Kita mungkin sering berpikir industri media hanya melibatkan pemilik modal, jurnalis, pembaca, dan tentu saja ada pengiklan.

Dengan nada dan intonasi yang menarik bak pembaca berita di televisi, Heru berdiri di bagian depan bis, dekat pak supir, menceritakan isi koran dengan meyakinkan, entah itu adalah kasus-kasus korupsi yang sedang diusut KPK, kerusuhan di Timur Tengah, skandal selebritas, atau gol mencengangkan dari klub sepak bola Inggris. Tak lupa ia menyebutkan di halaman berapa berita tersebut tersaji agar penumpang mudah mencari berita yang menarik perhatian mereka itu. “Semua yang menarik saya bacakan. Headline hari ini apa, misalnya kasus Nazaruddin, kadang berita olahraga, atau kadang juga lowongan pekerjaan, karena saya tahu banyak orang membeli koran bukan karena beritanya, tapi karena iklan lowongan pekerjaan yang ada di dalamnya.” Menurutnya, dengan cara ini ia bisa menjaring pembeli lebih banyak daripada lopper koran lainnya.

Dari sinilah penumpang bisa bisa tahu koran apa yang harus ia beli, atau memutuskan apakah koran hari ini layak dibeli atau tidak. “Kalau beritanya sudah bagus, akan cepat sekali larisnya. Saya tinggal jalan ke belakang, lalu penumpang-penumpang sudah siap memegang uang dan menyebutkan koran apa yang mau mereka beli. Selesai. Lalu saya turun lagi dari bis. Begitu seterusnya,” ujar Heru.

Semua ini memang bukan tidak sengaja ia lakukan, melainkan kebiasaan yang sangat terencana. Tiap hari pria yang tinggal di Tangerang ini harus sudah sampai di kolong jembatan Perempatan Slipi sekitar pukul 04.30 pagi. Pada jam itulah agen-agen membagikan koran, tabloid dan majalah kepada para lopper.

Segera setelah Heru mendapatkan jatah hariannya, ia pun duduk dengan tenang, membuka halaman demi halaman, membaca judul-judul artikel, lalu merekam di kepalanya berita-berita apa saja yang menarik dan akan ia bacakan di atas bis nanti. “Dibaca cepat saja, tidak perlu detail. Dari judulnya sepintas kita sudah bisa menangkap berita itu menarik atau tidak.”

Tak perlu latihan, ia pun mulai naik ke atas bis begitu bis-bis yang berisi penumpang mulai melintas – dan beberapa ngetem – di Perempatan Slipi. Jika para seniman jalanan mempergunakan bis sebagai panggung mereka, mungkin bagi Heru bis adalah studio. Bedanya kali ini tak ada kamera dan tak terpisah layar kaca antara sang anchor dan pemirsanya.

Hal ini juga sudah menjadi ciri khasnya di antara para lopper dan penjual makanan di sekitar Perempatan Slipi. Jika Anda bertanya kepada sesama lopper, pengamen, pemilik warung atau tukang ojek yang mangkal di sini, “Apa Anda tahu lopper koran yang biasa membaca berita di atas bis?” Pasti mereka akan menjawab, “Oh, mungkin yang Anda cari adalah Heru.” Lalu digiringlah Anda kepada Heru yang selalu siap naik ke dalam bis.

Para lopper memang harus cekatan. Ia hanya punya waktu sedikit. Mereka umumnya naik ke atas bis beberapa meter sebelum lampu merah Slipi. Biasanya para supir sudah mulai memperlambat kecepatan bisnya pada saat ini. begitu naik ia langsung membacakaan beberapa sinopsis berita, kemudian menjajakannya dari bagian depan ke belakang bis. Lalu saat bis berhenti di tempat perhentian angkutan umum yaitu di depan Gedung Jakarta Design Center (JDC), para lopper koran ini turun dari bis.

Bis favorit Heru adalah PPD 213 jurusan Grogol – Kampung Melayu. Hal ini karena bis ini melewati Jl. Sudirman, jadi jelas penumpangnya adalah karyawan perkantoran. Menurutnya, strategi pemasaran koran seperti ini lebih mengena untuk para karyawan perkantoran karena mereka membeli koran memang benar-benar untuk membaca isinya. Sementara itu masyarakat selain penumpang bis seperti pengendara sepeda motor atau supir kebanyakan membeli koran hanya untuk dijadikan kipas, lap kaca atau lap jok motor.

Ditanya apakah ia khawatir apabila barang dagangannya itu tiba-tiba hilang dari muka bumi karena tergantikan oleh media online, ia menjawab, “Saya jualan, sih, bagus-bagus saja. Tidak merasa semakin kesulitan mencari pembeli.” Pendapat Heru ini sejalan dengan jumlah tiras surat kabar yang beredar di DKI Jakarta. Menurut data Serikat Perusahaan Pers (SPS) Indonesia 2011, dalam empat tahun terakhir jumlah tiras surat kabar harian memang terus meningkat meski dalam persentase yang sangat kecil, yaitu 2.622.357 (2008), 2.915.687 (2009), 2.960.312 (2010), dan 3.069.534 (2011). Sementara, saat ini terdapat 45 judul Surat Kabar Harian yang beredar di Jakarta. Artinya, tren jumlah tiras sampai saat ini memang tidak menurun. Tidak menunjukkan adanya ancang-ancang perusahaan media cetak untuk berhenti berproduksi.

Lalu koran apakah yang paling laris menurut perhitungan Heru? “Koran Tempo, Kompas, Warta Kota biasanya paling banyak dibeli jika saya membacakan kasus-kasus yang sedang ramai. Sedangkan Kompas umumnya dibeli untuk lowongan perkerjaannya. Kalau yang suka bola sudah pasti belinya Top Score,” ungkap Heru.

Kemudian berita apakah yang paling disukai masyarakat? “Berita seperti kasus Nazaruddin, penangkapan John Kei. Pokoknya berita yang aneh-aneh,” jawab Heru. Surat kabar yang banyak menyuarakan masalah ekonomi yang dekat dengan masyarakat menurut Heru justru sulit dijual. Seperti sebuah surat kabar yang menurut Heru banyak mengangkat masalah harga beras, petani, gula, dan BBM. “Yang seperti itu susah jualnya. Saya sudah bicara dengan orang dari sananya, tapi memang mereka maunya menulis itu, ya, sudah,” lanjutnya. Dari sini kita bisa ambil kesimpulan kalau masyarakat memang masih senang dengan berita-berita sensasional.

Koran-koran lain seperti Warta Kota, menurut Heru juga cukup baik penjualannya karena harganya yang relatif murah. Sedangkan Pos Kota laris karena memuat berbagai macam iklan. “Yang mau cari mobil bekas, rumah, apa saja, pasti mencari Pos Kota. Karena lengkap di sini,” pungkas Heru.

Yang menarik, meski ia banyak bergantung pada karyawan kantoran, ia tidak merasa kesulitan berdagang saat akhir pekan. “Sabtu dan Minggu saya jualan tetap mudah. Karena banyak iklan lowongan pekerjaan. Kalau hari Senin, yang laku itu Lampu Hijau, nama barunya Lampu Merah.”

Ia sendiri – sebagai orang yang tiap hari melahap semua isi koran di Jakarta – berpendapat kalau pada dasarnya semua koran bagus. Selera masing-masing orang dan kebutuhan saat itulah yang menentukan koran apa yang ia baca.

Namun menurut Heru, di luar apa yang tersaji menarik oleh para editor, masyarakat juga biasa membeli koran atas dasar fanatisme. Maka meski pada satu hari Heru hanya membacakan Top Score dan Koran Tempo, orang-orang yang terbiasa membaca Kompas tetap akan membeli koran langganannya itu. Begitu pula kasusnya dengan koran-koran lain, tak selamanya yang dibeli adalah koran yang ia bacakan isinya. “Tadi saya jualan Media (Indonesia), tapi yang diminta Kompas.”

Kalau ditelisik lebih lanjut, apa yang dilakukan Heru kuran lebih mirip dengan pa yang dilakukan lembaga-lembaga survey yang tiap tahun mengahsilkan hasil survey tentang rating acara di televise, Koran atau media paling laris dan banyak dibaca masyarakat, atau jenis berita yang diminati masyarakat. Jika selama ini lembaga-lembaga survey tersebut diragukan keabsahannya, Heru begitu meyakinkan dengan penilaiannya. Tentu saja responden Heru hanya sebatas penumpang bis-bis kota yang melewati Perempatan Slipi.

Melihat perkembangan media online dan media sosial masa kini, Heru menyimpulkan fanatisme dan kebutuhan akan koran yang belum tergantikan inilah yang menjelaskan mengapa profesinya masih lebih bertahan dalam kondisi apapun, meski banyak media berganti nama dan pemilik, dan meski kualitas tulisan jurnalis bahkan jurnalisnya itu sendiri dibilang sudah banyak menurun. Seperti sekitar bulan lalu saat pertama kali mengenal Heru. Ia bingung harus membacakan berita apa hari itu. “Tidak ada berita yang menarik hari ini. Paling cuma perkembangan kasus Miranda Goeltom saja, itu juga tidak banyak informasi berarti. Tapi itu sudah lumayan dibanding yang lainnya.”

 

Tulisan ini dipublikasikan di Jakarta Globe Juni 2012.

About gitahastarika

Arsip kerjaan dan bukan kerjaan.

2 comments

  1. Jim

    is good artikel Thank you so much ,

  2. Jim

    mantap gan perkembangan teknologi sekarang, , klw kita gak ikuti bisa ketinggalan kereta ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s